🔍
1Dalam tahun kedua pemerintahan Raja Agung Ahasyweros, pada tanggal satu bulan Nisan, maka Mordekhai bin Yair bin Simei bin Kisy dari suku Benyamin,
2seorang Yahudi yang tinggal di benteng Susan dan seorang penjabat tinggi di istana raja, melihat mimpi.
3Mordekhai itu termasuk kaum tawanan yang telah diangkut tertawan oleh Nebukadnezar, raja Babel, dari Yerusalem bersama dengan Yekhonya, raja Yehuda.
4Dan inilah mimpinya itu: Tiba-tiba ada bunyi, gempar, gemuruh, gempa dan kekusutan di atas bumi.
5Maka nampaklah olehnya ada dua ekor naga raksasa tampil ke muka. Kedua naga itu bersiap-siap untuk bergulat satu sama lain dan hebatlah dengungannya.
6Atas dengungannya itu maka tiap-tiap bangsa bersiap-siap untuk berperang melawan suatu bangsa terdiri atas orang-orang benar.
7Sekonyong-konyong harinya menjadi gelap dan kelam. Kesesakan, kepicikan, kesukaran dan kekusutan besar menghinggapi bumi.
8Maka terperanjatlah segenap bangsa benar itu oleh karena takut kepada malapetaka mereka, bahkan mereka sudah menyediakan diri untuk dibinasakan dan berserulah mereka kepada Allah.
9Atas jeritannya itu maka segera timbul dari sebuah sumber yang kecil suatu sungai besar, sungguh banyak air.
10Kemudian menjadi terang waktu matahari terbit. Orang-orang yang hina-dina ditinggikan dan orang-orang yang berkuasa ditelan oleh mereka.
11Maka bangunlah Mordekhai yang telah melihat mimpi itu dan olehnya dipikirkan apa yang hendak diperbuat Allah. Hingga malam hari Mordekhai berusaha seakal sebudi untuk mengartikan mimpinya itu.
12Adapun Mordekhai diam di dalam istana raja bersama dengan Bigtan dan Teresy, kedua sida-sida raja yang menjaga istana.
13Didengarlah oleh Mordekhai tentang makar kedua orang itu dan dijoloknya maksud mereka. Maka ketahuan olehnya bahwa mereka bersiap-siap untuk menjatuhkan tangannya kepada raja Ahasyweros. Iapun lalu memberitahu raja tentang mereka.
14Maka diadakanlah oleh raja pemeriksaan atas kedua sida-sida itu dan atas pengakuan mereka sendiri maka mereka diantarnya ke hukuman.
15Rajapun menyuruh tulis peristiwa itu dalam babad negara dan Mordekhai juga membuat catatannya tentang peristiwa tersebut.
16Lalu raja mengaruniakan suatu jabatan di istana kepada Mordekhai dan menganugerahinya berbagai hadiah karena hal itu.
17Adapun Haman bin Hamedata, orang Agag, adalah seorang yang terpandang di hadapan raja. Oleh karena kedua sida-sida raja tadi maka Haman berusaha untuk mencelakakan baik Mordekhai maupun bangsanya.