Sabtu, 2 Januari 2027
S. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze
Peringatan WajibBacaan Misa
Bacaan Pertama 1 Yohanes 2:22-28
Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal. Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia. Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.
Mazmur Tanggapan Mazmur 98:1-4
Bacaan Injil Yohanes 1:19-28
Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak." Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.
Renungan
Aku Bukan
Coba perhatikan cara kita memperkenalkan diri. Hampir selalu berisi daftar tambahan: jabatan, gelar, prestasi, kenalan penting. Jarang sekali orang memperkenalkan diri dengan pengurangan.
Yohanes Pembaptis melakukannya. Ditanya para utusan dari Yerusalem, "Siapakah engkau?", jawabannya justru rentetan penyangkalan. Aku bukan Mesias. Bukan Elia. Bukan nabi yang akan datang. Tiga kali "bukan". Padahal orang berbondong-bondong kepadanya. Padahal satu anggukan saja, ia bisa dielu-elukan.
Yohanes tahu persis siapa dirinya: suara yang berseru di padang gurun. Suara itu penting, tetapi ia bukan Sang Firman. "Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak." Orang besar sejati ternyata tidak takut tampak kecil.
Hari ini Gereja mengenang dua sahabat, Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze. Dua orang paling terpelajar di zamannya, uskup, pujangga Gereja. Gregorius pernah menulis bahwa mereka berdua bagaikan satu jiwa dalam dua tubuh. Kebesaran mereka tumbuh justru karena keduanya tahu: pusatnya bukan aku.
Mungkin itu latihan awal tahun yang baik. Berani berkata "aku bukan". Aku bukan pusat keluarga ini. Aku bukan penentu segalanya. Ada Dia yang berdiri di tengah-tengah kita, yang sering tidak kita kenal.
Tuhan, jadikan aku suara yang menunjuk kepada-Mu, bukan gema yang memantulkan diriku sendiri. Amin.
Invitatorium
SABTU II PAGI
Pembukaan
Ant. Kristus menampakkan diri, marilah kita menyembah Dia.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Kristus menampakkan diri, marilah kita menyembah Dia.
Ibadat Bacaan
Ibadat Bacaan untuk Sabtu sebelum Epifani
MADAH
PSALMODI
Ant. 1 Nyanyikanlah pujian bagi Tuhan; ingatlah keajaiban yang telah Ia perbuat.
Mazmur 105
Tuhan setia pada janji-janji-Nya
Ant. Nyanyikanlah pujian bagi Tuhan; ingatlah keajaiban yang telah Ia perbuat.
Ant. 2 Tuhan tidak meninggalkan orang baik yang dijual sebagai budak, tetapi membebaskannya dari kuasa orang-orang berdosa.
Ant. Tuhan tidak meninggalkan orang baik yang dijual sebagai budak, tetapi membebaskannya dari kuasa orang-orang berdosa.
Ant. 3 Tuhan setia pada janji-Nya yang kudus; Ia memimpin umat-Nya menuju kebebasan dan sukacita.
Ant. Tuhan setia pada janji-Nya yang kudus; Ia memimpin umat-Nya menuju kebebasan dan sukacita.
BACAAN
RESPONSORIUM Yesaya 61:1; Yohanes 8:42
RESPONSORIUM 1 Yohanes 4:14; 1:9
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Madah
Ant.1: Kami mewartakan kasihMu pagi hari, ya Tuhan dan kesetiaanMu di waktu malam.
Mazmur 91 (92)
Ant.1: Kami mewartakan kasihMu pagi hari, ya Tuhan dan kesetiaanMu di waktu malam.
Ant.2: Muliakanlah Allah kita.
Ul 32,1-12
Ant.2: Muliakanlah Allah kita.
Ant.3 Betapa mulia namaMu, ya Tuhan, di seluruh bumi.
Mazmur 8
Ant.3: Betapa mulia namaMu, ya Tuhan, di seluruh bumi.
Bacaan Singkat (Keb 7:26-27)
Lagu Singkat
Ant.Kidung: Ya Tuhan, bimbinglah kami ke jalan damai sejahtera.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Ya Tuhan, bimbinglah kami ke jalan damai sejahtera.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Siang
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
SABTU II SIANG
Madah
Ant.1: Tuhan bersabda: Langit dan bumi akan lenyap, tetapi sabdaKu takkan lenyap.
Mazmur 118 (119), 81-88
Ant.1: Tuhan bersabda: Langit dan bumi akan lenyap, tetapi sabdaKu takkan lenyap.
Ant.2: Tuhan, Engkaulah harapanku, jadilah pelindungku dan bentengku terhadap musuh.
Mazmur 60 (61)
Ant.2: Tuhan, Engkaulah harapanku, jadilah pelindungku dan bentengku terhadap musuh.
Ant.3: Jagalah hidupku terhadap musuh, ya Tuhan.
Mazmur 63 (64)
Ant.3: Jagalah hidupku terhadap musuh, ya Tuhan.
Bacaan singkat (1Raj 2,2b-3)
Doa Penutup
Ibadat Sore
HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN SORE I
Madah
Ant.1: Tuhan penyelamat kita, yang sudah lahir sebelum segala zaman, hari ini menampakkan diri kepada dunia.
Mazmur 134 (135) - I
Ant.1: Tuhan penyelamat kita, yang sudah lahir sebelum segala zaman, hari ini menampakkan diri kepada dunia.
Ant.2: Tuhan Allah kita sungguh agung melebihi segala dewata.
Mazmur 134 (135) - II
Ant.2: Tuhan Allah kita sungguh agung melebihi segala dewata.
Ant.3: Bintang bercahaya bagaikan nyala api, menjadi tanda Allah, raja para raja. Para sarjana melihatnya dan menyerahkan persembahan kepada Kristus, raja agung.
Kidung 1Tim 3,16
Ant.3: Bintang bercahaya bagaikan nyala api, menjadi tanda Allah, raja para raja. Para sarjana melihatnya dan menyerahkan persembahan kepada Kristus, raja agung.
Bacaan Singkat (2Tim 1:9-10)
Ant.Kidung: Para sarjana melihat bintang dan berkata satu sama lain: Itu tanda raja agung. Marilah kita pergi untuk mencarinya dan mempersembahkan kepadanya emas, dupa dan wangi-wangian.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant.Kidung: Para sarjana melihat bintang dan berkata satu sama lain: Itu tanda raja agung. Marilah kita pergi untuk mencarinya dan mempersembahkan kepadanya emas, dupa dan wangi-wangian.
Doa Permohonan
Doa Penutup
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - MINGGU I
Doa Tobat
Madah
Ant 1: Kasihanilah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah doaku.
Mazmur 4
Ant 1: Kasihanilah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah doaku.
Ant 2: Pujilah Tuhan di waktu malam.
Mazmur 133 (134)
Ant 2: Pujilah Tuhan di waktu malam.
Bacaan singkat (Ul 6,4-7)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
S. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze
Uskup dan Pujangga Gereja · abad ke-4 (± 329-379 dan ± 329-390)
Basilius lahir sekitar tahun 329 di Kaesarea, ibu kota Kapadokia di Asia Kecil, dari sebuah keluarga Kristen yang sangat saleh. Orang tuanya, Basilius Tua dan Emmelia, serta neneknya Makrina, sama-sama dihormati Gereja sebagai orang kudus. Ia menempuh studi tinggi di Konstantinopel dan Athena. Di Athena itulah ia menjalin persahabatan seumur hidup dengan Gregorius dari Nazianze, teman sekelasnya.
Sepulang dari studi, Basilius sempat mengajar retorika, tetapi kemudian meninggalkan segala kemasyhuran duniawi untuk hidup sebagai rahib. Ia menyusun aturan hidup membiara yang sampai kini menjadi dasar monastisisme Gereja Timur. Sebagai Uskup Kaesarea, ia tampil berani melawan bidat Arianisme yang menyangkal keilahian Kristus. Ia juga sangat lembut dan murah hati kepada kaum miskin. Ia mendirikan dapur umum dan kompleks amal, dan orang kerap melihatnya sendiri mengenakan celemek melayani mereka yang lapar. Ia wafat tahun 379 dalam usia sekitar empat puluh sembilan tahun.
Gregorius dari Nazianze bertabiat lebih pendiam dan mencintai keheningan doa, namun ia adalah pengkhotbah yang mengagumkan. Sebagai Uskup Konstantinopel ia mempertobatkan banyak orang lewat khotbah-khotbahnya tentang Tritunggal, sehingga ia digelari Sang Teolog. Empat puluh empat khotbahnya, ratusan suratnya, serta banyak puisinya diwariskan kepada Gereja. Ia wafat sekitar tahun 390.
Bersama Gregorius dari Nyssa, kedua sahabat ini dikenal sebagai Bapa-bapa Kapadokia, yang membela dan merumuskan ajaran Tritunggal Mahakudus melawan ajaran sesat pada zamannya. Karena kedalaman ajaran mereka, keduanya diangkat sebagai Pujangga Gereja.
Pelindung: para pekerja rumah sakit dan reformasi monastik (Basilius); para pengkhotbah dan teolog (Gregorius).
Santo Basilius Agung
Uskup, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja
Basilius Agung lahir pada tahun 329 di Kaesarea, ibukota Propinsi Kapadokia di Asia Kecil. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Kedua orangtuanya yaitu Basilius Tua dan Emmelia beserta neneknya Makrina Tua diakui dan dihormati Gereja sebagai orang Kudus. Demikia pula dengan Makrina Muda dan kedua adiknya: Gregorius dari Nyssa dan Petrus dari Sebaste.
Basilius dididik oleh ayahnya dan neneknya Makrina Tua. Pendidikan ini menumbuhkan iman yang kokoh dan murni dalam dirinya. Basilius kemudian melanjutkan pendidikannya di Konstantinopel dan Athena. Di Athena, ia menjalin persahabatan dengan Gregorius dari Nazianze, teman kelasnya.
Setelah menamatkan pendidikannya dengan cermelang, ia kemudian kembali ke Kaesarea dan menjadi pengajar Retorika (ILmu Pidato). Dalam waktu singkat, namanya sudah dikenal luas. Ia bangga atas prestasi dan kemasyuran namanya dan senang dengan pujian orang. Oleh karena itu, lama kelamaan ia menjadi sombong dan cenderung mencari hormat duniawi. Namun atas pengaruh kakaknya Makrina Muda dan kedua adiknya, ia mulai tertarik pada corak hidup membiara. Ia lalu berhenti mengajar dan berangkat ke Mesir, Palestina, Syria dan Mesopotamia untuk mempelajari corak hidup membiara. Sekembalinya dari perjalanan itu, ia bersama Petrus Sebaste adiknya, membangun suatu biara pertapaan di Pontus. Di tempat itu, ia bertapa dan menjalani hidup yang keras bersama dengan beberapa rekannya. Aturan hidup membiara di Pontus mengikuti contoh dari Santo Pakomius dari Mesir. Kehidupan membiara yang dibangunnya merupakan bentuk kehidupan membiara yang pertama di ASia Kecil. Oleh karena itu, Basilius digelari sebagai Bapa Perintis hidup membiara di Gereja Timur. Di Gereja Barat pengaruh Basilius dikenal melalui Santo Benediktus, pendiri ordo Benediktin dan Abbas biara Monte Kasino.
Pada tahun 370, Basilius diangkat menjadi Uskup Kaesarea, menggantikan Uskup Eusebius. Ia dikenal sebagai seorang Uskup yang berwatak tegas dan bersemangat. Kepandaian, kesucian dan kerendahan hatinya menjadikan dia tokoh panutan bagi umatnya dan Uskup - uskup lain.
Selain giat membela kebenaran ajaran Kristiani terhadap serangan kaum Arian, Basilius juga memperhatikan kepentingan umatnya, terutama mereka yang miskin dan melarat. Karya sosial yang dirintisnya amat luas dan modern. Kaum kaya yang tidak mau mempedulikan sesamanya yang miskin dan melarat, dikecamnya habis - habisan. Ia membangun sebuah rumah sakit (namanya: Basiliad) untuk menampung orang - orang sakit yang miskin.
Untuk membela dan mempertahankan ajaran iman Kristiani terhadap ajaran sesat Arianisme, Basilius menerbitkan banyak buku - buku liturgi dengan berbagai pembaharuan. Dari antara ribuan surat yang ditulisnya itu tersimpan 300 surat hingga kini. Dari surat - surat itu kita dapat mengetahui kepribadian Basilius sebagai seorang yang mahir, pandai dan beriman. Meskipun badannya amat kurus karena hidup tapa yang keras dan penyakit, namun semangat pelayannya tak pernah pudar. Ia pun tetap ramah dan rendah hati terhadap semua umatnya.
Basilius meninggal dunia pada tangga 1 januari 379. Ia digelari Kudus dan dihormati sebagai Pujangga Gereja.
Santo Gregorius dari Nazianze
Uskup, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja
Keluarga Gregorius adalah keluarga yang saleh dan diberkati oleh Tuhan. Ibunya beserta kedua adiknya: Gorgonia dan Caesarius juga diakui Gereja sebagai orang Kudus.
Gregorius menjalani pendidikannya di Nazianze; kemudian berturut-turut ia belajar di Kaesarea-Kapadokia, Kaesarea-Palestina, Aleksandria dan Athena. Di Athena ia bertemu dengan Basilius, teman kelasnya. Keduanya bersahabat, bersama Basilius, Gregorius mengasingkan diri di sebuah pertapaan di Pontus. Tetapi kemudian karena desakan dari ayahnya, Gregorius kembali ke daerah asalnya. Disana ia ditabiskan iman dan kemudian ditabiskan menjadi Uskup. Ketika berumur 50tahun, ia diangkat menjadi Uskup Agung Konstantinopel. Di Konstantinopel ia menyaksikan keadaan hidup iman umat yang menyedihkan karena terpengaruh ajaran sesat Arianisme yang sudah menyebar luas. Tempat ibadat pun tidak ada.
Gregorius memulai karyanya sebagai Uskup dengan membangun sebuah Gereja darurat. Gereja ini disebutnya "anastasis" yang berarti kebangkitan. Kaum Arian yang menentangnya dihadapinya dengan tenang dan sabar. Kepada umat ia selalu berkata: "Kita harus menghadapi mereka (Kaum Arian) dengan budi bahasa yang manis dan kesabaran yang tinggi agar bisa mengalahkan mereka."
Ia banyak menulis dan mengajar di kota - kota yang menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, untuk membela ajaran iman yang benar. Pertentangan dengan kaum Arian terus meruncing, terlebih-lebih karena semakin banyak umat yang kembali keajaran iman yang benar karena pengaruh Gregorius. Kaum Arian berusaha membunuhnya dengan menyuruh seorang pemuda. Namun usaha ini gagal. Pemuda tangguh itu seketika berubah hatinya tatkala berdiri di hadapan Gregorius yang saleh itu. Ia berlutut dan mengakui niat jahatnya.
Gregorius lebih suka hidup menyendiri dalam kesunyian pertapaan daripada hidup ditengah keramaian kota dengan segala masalahnya. Oleh karena itu, tak berapa lama setelah ayahnya meninggal, ia kembali ke Nazianze untuk menggantikan ayahnya. Dimana ia mengajar dan banyak menulis buku - buku pengajaran iman dan pembelaan agama. Semua tulisn - tulisan itu merupakan warisan berharga bagi Gereja. Dari tulisan-tulisannya kita mengetahui bahwa Gregorius adalah seorang teolog dan Filsuf yang arif.
Gregorius meninggal dunia pada tahun 390. Oleh Gereja beliau digelari Kudus dan dihormati sebagai Pujangga Gereja.