Kamis, 24 April 2031
Kamis II Paskah
Bacaan Misa
Bacaan Pertama Kisah Para Rasul 5:27-33
Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami." Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia." Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu.
Mazmur Tanggapan Mazmur 34:2,9,17-20
Bacaan Injil Yohanes 3:31-36
Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."
Renungan
Ketika Dua Suara Berbenturan
Kemarin kita mendengar malaikat membuka pintu penjara dan menyuruh para rasul kembali mengajar di Bait Allah. Hari ini mereka sudah berdiri lagi di depan Mahkamah Agama, tepat di tempat bahaya yang baru saja mereka tinggalkan. Mereka dibebaskan, dan yang pertama mereka lakukan justru kembali ke mulut singa.
Imam Besar menegur, 'Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu.' Jawaban Petrus menjadi salah satu kalimat paling berani dalam seluruh Kitab Suci, 'Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.' Bukan berarti ia menganggap remeh setiap otoritas. Ia hanya tahu bahwa ketika perintah manusia berbenturan dengan perintah Allah, ada urutan yang tidak boleh dibalik.
Kita semua sesekali berdiri di persimpangan itu. Atasan menyuruh sesuatu yang tidak jujur. Kebiasaan lingkungan menuntut kita ikut yang keliru. Di saat seperti itu, hati nurani seperti kompas yang tetap menunjuk utara, betapa pun peta di tangan kita diputar ke segala arah.
Injil hari ini menguatkan alasannya. 'Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya.' Suara Allah datang dari atas, dari tempat yang lebih tinggi dari segala otoritas dunia. Menaati Dia lebih dulu bukan pemberontakan, melainkan menaruh setiap hal pada tempatnya yang benar.
Adakah saat kita lebih takut kepada suara manusia daripada kepada suara Allah, sampai kompas hati kita ikut kita putar?
Tuhan, ketika suara dunia dan suara-Mu berbenturan, berilah aku keberanian untuk menaati Engkau lebih dulu. Amin.
Invitatorium
KAMIS II PAGI
Pembukaan
Ant. Tuhan sungguh bangkit, alleluya.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Tuhan sungguh bangkit, alleluya.
Ibadat Bacaan
MADAH
Terang kemuliaan Bapa,
PSALMODI
Ant. 1 Tuhan, Engkaulah penyelamat kami; kami akan memuji-Mu selama-lamanya, alleluya.
Mazmur 44
Kemalangan umat Allah
Kita mengalahkan segala hal ini melalui Dia yang mengasihi kita (Roma 8:37).
Ant. Tuhan, Engkaulah penyelamat kami; kami akan memuji-Mu selama-lamanya, alleluya.
Ant. 2 Ampunilah kami, ya Tuhan; janganlah Engkau menghina umat-Mu sendiri, alleluya.
Ant. Ampunilah kami, ya Tuhan; janganlah Engkau menghina umat-Mu sendiri, alleluya.
Ant. 3 Bangkitlah, ya Tuhan, dan selamatkanlah kami, karena Engkau berbelas kasihan, alleluya.
Ant. Bangkitlah, ya Tuhan, dan selamatkanlah kami, karena Engkau berbelas kasihan, alleluya.
BACAAN
RESPONSORIUM Wahyu 3:20; 2:7
RESPONSORIUM Lukas 22:19; Yohanes 6:59
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
Madah
Ant.1: Aku ini pokok anggur, dan kamu ranting-rantingnya, alleluya.
Mazmur 79 (80)
Ant.1: Aku ini pokok anggur, dan kamu ranting-rantingnya, alleluya.
Ant.2: Dengan suka ria kamu akan menimba air dari sumber keselamatan, alleluya.
Yes 12,1-6
Ant.2: Dengan suka ria kamu akan menimba air dari sumber keselamatan, alleluya.
Ant.3: Tuhan menguatkan kita dengan sari gandum, alleluya.
Mazmur 80 (81)
Ant.3: Tuhan menguatkan kita dengan sari gandum, alleluya.
Bacaan singkat: (Rom 8,10-11)
Ant.Kidung: Bapa mengasihi Putera dan menyerahkan segala sesuatu kepadaNya, alleluya.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Bapa mengasihi Putera dan menyerahkan segala sesuatu kepadaNya, alleluya.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Siang
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
KAMIS II SIANG
Madah
Ant.1: HukumMu sangat berharga melebihi ribuan keping perak dan emas, alleluya.
Mazmur 118 (119),65-72
Ant.1: HukumMu sangat berharga melebihi ribuan keping perak dan emas, alleluya.
Ant.2: Pada Allah aku percaya dan tidak takut, apa yang dapat dilakukan manusia terhadapku? Alleluya.
Mazmur 55 (56),2-7b.9-14
Ant.2: Pada Allah aku percaya dan tidak takut, apa yang dapat dilakukan manusia terhadapku? Alleluya.
Ant.3: Besarlah kasihMu, ya Tuhan, setinggi langit, alleluya.
Mazmur 56 (57)
Ant.3: Besarlah kasihMu, ya Tuhan, setinggi langit, alleluya.
Bacaan singkat: (Tit 3,5b-7)
Doa Penutup
Ibadat Sore
KAMIS II SORE
Madah
Ant.1: Kristus diangkat Allah, menjadi hakim atas orang hidup dan mati, alleluya.
Mazmur 71 (72) - I
Ant.1: Kristus diangkat Allah, menjadi hakim atas orang hidup dan mati, alleluya.
Ant.2: Semoga segala bangsa saling memberkati demi nama Yesus, alleluya.
Mazmur 71 (72) - II
Ant.2: Semoga segala bangsa saling memberkati demi nama Yesus, alleluya.
Ant.3: Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya, alleluya.
Why 11,17-18;12,10-12
Ant.3: Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya, alleluya.
Bacaan singkat: (1Ptr 3,18.22)
Ant.Kidung: Barang siapa percaya kepada Putera, memiliki hidup kekal, alleluya.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant.Kidung: Barang siapa percaya kepada Putera, memiliki hidup kekal, alleluya.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - KAMIS
Doa Tobat
Madah
Ant: Tubuhku beristirahat dengan tenteram.
Mazmur 15 (16)
Ant.: Tubuhku beristirahat dengan tenteram.
Bacaan singkat (1Tes 5,23)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
Santa Rosa Virginia Pelletier
Perawan
Rosa Virginia Pelletier lahir pada tanggal 31 Juli 1796 disebuah daerah pengungsian di pulau Noimoutier. Ayahnya, Julian Pelletier adalah seorang dokter. Ibunya bernama Anne Mourain. Perkawinan kedua orangtuanya berlangsung ketika sang ayah berumur 29 tahun, dan ibunya berumur 20 tahun. Ketika itu mereka tinggal di Soullans, sebuah daerah dataran rendah yang indah di Perancis.
Sekitar tanggal 21 Januari 1793 pecahlah pergolakan hebat diseluruh negeri Perancis. Kehidupan Gereja pun turut terguncang. Banyak imam yang dibunuh oleh orang-orang yang membenci gereja. Namun sayang bahwa penjahat-penjahat itu tidak ditangkap dan dihukum. Mereka dibiarkan berkeliaran dan melakukan berbagai aksi kejahatan. Mengingat bahaya yang menimpa imam-imam, maka keluarga Pelletier menyembunyikan pastor Paroki Soullans di rumahnya. Tetapi hal ini kemudian diketahui oleh para penjahat itu. Pastor itu ditangkap dan kemudian dibunuh. Karena merasa terancam, keluarga Pelletier pindah ke pulau Noimoutier, tempat kelahiran Rosa Virginia Pelletier. Rosa dididik secara Katolik dalam lingkungan yang sangat baik. Semenjak kecil ia dilatih untuk bekerja keras dan berkelakuan baik terhadap orang lain. Namanya Rosa berarti "Bunga Mawar" menunjukkan harapan orang tuanya akan perkembangan diri Rosa menjadi seorang putri yang harum namanya dan berguna bagi banyak orang lain. Sedangkan Virginia yang berarti "perawan" menunjukkan harapan orangtuanya untuk suatu corak hidup yang mengikuti teladan Bunda Perawan Maria.
Setelah hidup lama di Noimoutier, dokter Pelletier meninggal dunia. Ibu Anne mengalami goncangan batin yang hebat karena kematian suaminya. Semenjak itu ia sendirilah yang harus bersusah payah membesarkan Rosa kecil. Kepedihan yang sama menimpa Rosa, yang tak lama kemudian menerima sakramen Permandian dan Penguatan. Kemudian setelah situasi umum di Soullans aman dan damai, ibu Anne bersama Rosa pindah kembali ke daerah asalnya Soullans. Disini, Rosa dimasukkan ke dalam asrama untuk melanjutkan pendidikannya. Di asrama ini, Rosa berusaha selalu menampilkan diri sebagai gadis yang menyenangkan banyak orang. Sikap dan tingkah lakunya berbeda sekali dengan teman-temannya. Ia seorang gadis yang tenang, alim, tidak suka memberontak dan rajin membantu orang lain. Dengan senang hati ia membantu suster pemimpin asrama untuk menertibkan rekan-rekannya. Pendidikannya di asrama ini sungguh menyiapkan dia untuk menjadi seorang suster yang saleh di kemudian hari.
Sementara berada di asrama, peristiwa duka lain menimpa dirinya. Constan, saudaranya meninggal dunia. Enam bulan setelah kematian Constan, ibunya tercinta meninggal dunia juga. Semua peristiwa yang datang beruntun ini meninggalkan luka batin yang cukup dalam di hati Rosa. Ia terus saja memikirkan ayahnya, ibunya dan saudaranya. Tetapi inilah saat yang tepat bagi Tuhan untuk bertindak atas diri Rosa. Pada suatu hari, dia bersama kawan-kawannya berkunjung ke biara suster-suster Kongregasi Santa Maria Pengasih. Disini mereka merayakan Misa Kudus bersama suster-suster itu. Peristiwa ini menumbuhkan dalam hatinya minat untuk menjalani hidup sebagai seorang suster. Maksud hatinya untuk menjadi seorang suster diberitahukan kepada kakaknya Anne Yosefin dan Marsaud, suami Anne. Tetapi cita-citanya itu tidak disetujui. Saudaranya tidak menyetujui kalau Rosa masuk biara itu. Ia boleh masuk biara lain seperti biara Santa Ursula. Namun demikian, Rosa tidak putus asa. Ia terus berdoa agar Tuhan memberikannya jalan. Akhirnya kedua kakaknya menyetujui cita-cita Rosa. Pada tanggal 20 Oktober 1814, Rosa pergi ke Tours untuk menjalani hidup membiara.
Setelah menjalani masa postulan selama 11 bulan, Rosa memasuki masa novisiat. Ia diberi nama baru "Euphrasia". Ia giat mempelajari Kitab Suci dan rajin membaca riwayat hidup orang-orang Kudus. Pada tanggal 9 September 1817, ia mengucapkan kaulnya yang pertama: kemiskinan, ketaatan, kemurnian dan pengabdian untuk keselamatan kaum wanita. Jubah mereka khas. Warna putih. Di bagian dada tergantung salib biru yang melambangkan sengsara Kristus. Disamping salib terdapat sejenis kalung dengan medali bergambar Santa Perawan Maria dan Kanak-Kanak Yesus, dikelilingi bunga bakung dam sekuntum mawar yang melambangkan cinta abadi.
Sebagai seorang suster muda, Euphrasia melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dengan penuh semangat. Ia ditugaskan di bidang pendidikan anak-anak asuhan yang ada dalam biara itu, dan berusaha agar mereka bisa kembali ke masyarakat sebagai orang-orang yang berguna. Karena kesalehan dan kepribadiannya yang menarik, dia diangkat sebagai pemimpin biara pada tahun 1825. Dalam tugas baru ini, ia berusaha dengan bantuan Tuhan untuk mengembangkan biaranya. Cintanya kepada santa Theresia dari Avilla sangat besar. Karena itu ia lebih condong kepada cara hidup karmelit. Atas izin pimpinan biara Karmelit, ia memadukan aturan-aturan Ordo Karmelit dan Anggaran Dasar Biaranya sendiri. Corak hidup mereka mengikuti corak hidup "Magdalena".
Banyak orang yang tertarik pada corak hidup yang baru ini. Mula-mula ada empat orang menggabungkan diri di bawah bimbingannya. Mereka segera menyebarluaskan wilayah kerjanya ke beberapa kota, antara lain Tours dan Angers. Kemudian meluas lagi meliputi negara-negara seperti Inggris, Belgia, Jerman dan Italia bahkan sampai ke tanah air kita, Indonesia. Akhirnya pada tanggal 24 April 1868, suster Maria Euphrasia meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya selama masa tuanya. Paus Pius XII (1939-1958) memberi gelar "kudus" kepadanya pada tanggal 2 Mei 1940.
Santo Fidelis dari Sigmaringen
Martir
Fidelis lahir di Sigmaringen, Jerman pada tahun 1577. Semasa mudanya ia suka bergaul dan mengunjungi ornag-orang sakit dan miskin. Ia rajin berdoa dan sering berlutut di depan altar hingga berjam-jam lamanya. Sesudah menamatkan studinya pada tingkat menengah, ia melanjutkannya di universitas Freiburg. Disinilah ia memperoleh gelar doktor dalam bidang hukum Gereja dan Sipil. Semenjak itu, ia mulai berkarya di bidang hukum.
Pembelaannya terhadap kaum miskin dan budi bahasanya yang ramah terhadap lawan-lawannya menyebabkan dia dikenal dan dicintai banyak orang. Tetapi rencana Tuhan terhadap diri Fedelis ternyata lain. Fidelis meninggalkan karyanya sebagai ahli hukum dan masuk biara imam-imam Kapustin. Disana ia menjalankan cara hidup yang keras dan doa yang mendalam. Sebelum mengucapkan kaulnya, ia menulis dalam wasiat antara lain: "Aku mempersembahkan jiwa dan ragaku selaku kurban yang hidup untuk selama-lamanya, guna mengabdi Allah yang MahaMulia, Santa Perawan Maria yang tak bercela, dan Santo Fransiskus".
Sesungguhnya, dalam biaranya, Fidelis hidup dengan penuh pengabdian dan penyerahan kepada Tuhan. Kesenangan-kesenangan duniawi tidak diindahkannya. Semangatnya untuk bermatiraga sangat besar, sehingga peraturan-peraturan biara yang sungguh sangat berat tidaklah dianggapnya sebagai beban. Kerinduannya adalah menjadi martir Kristus. Karena itu, ia senang sekali waktu diutus ke Swiss oleh Kongregasi Penyebaran Iman, yang baru saja berdiri. Di Swiss, Fedelis menghadapi banyak tantangan dari kaum Kalvinis, dalam pelayanannya kepada orang-orang Kristen yang tersesat dan masuk Kalvinis. Kalvinis mencoba membunuhnya tetapi tidak berhasil karena tembakan meleset. Kesempatan yang baik tiba ketika para Kalvinis itu menghadangnya di jalan. Ia dipaksa untuk menyangkal iman Katolik. Tetapi dengan perkasa ia menjawab "Aku datang kesini untuk memberikan terang kepadamu, dan bukan untuk menerima kesesatanmu; aku tidak takut mati dan sekali-kali aku tidak akan menyangkal iman Katolik yang telah berabad-abad usianya". Karena jawaban ini, ia disergap dan dibunuh pada tahun 1622.