Minggu, 10 Agustus 2031
Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga
Bacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Bacaan Pertama Kebijaksanaan 18:6-9
Malam itu telah diberitahukan lebih dahulu kepada nenek moyang kami, supaya mereka benar-benar insaf akan sumpah yang mereka percayai lalu mendapat hati. Maka umat-Mu mengharapkan baik keselamatan orang benar maupun kebinasaan para musuh. Sebab dengan apa telah Kauhukum para lawan, dengan itupun telah Kaumuliakan kami, setelah kami Kaupanggil. Diam-diam anak-anak suci dari orang yang baik mempersembahkan korban dan sehati membebankan kepada dirinya kewajiban ilahi ini: orang-orang suci sama-sama akan mengambil bagian baik dalam hal-hal yang baik maupun dalam bahaya. Dalam pada itu sebelumnya sudah mereka dengungkan lagu-lagu pujian para leluhur.
Mazmur Tanggapan Mazmur 33:1,12,18-20,22
Bacaan Kedua Ibrani 11:1-2,8-19
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.
Bacaan Injil Lukas 12:32-48
Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."
Renungan
Iman yang Tinggal di Kemah
Ada orang yang tinggal bertahun di sebuah rumah tetapi kopornya tak pernah benar-benar dibongkar. Selalu setengah siap berangkat. Bukan karena tak betah, melainkan karena tahu tempat itu bukan tujuan akhir. Begitulah cara para beriman dalam Kitab Suci menjalani hidup.
Surat Ibrani memberi kita rumusan iman yang indah. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Lalu ia menunjuk Abraham. Ketika dipanggil, Abraham berangkat "dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui." Ia pergi tanpa tahu ke mana. Iman baginya bukan peta yang lengkap, melainkan kepercayaan pada yang memanggil.
Dan setelah sampai di tanah yang dijanjikan pun, ia tinggal di kemah. Bukan rumah batu yang megah, melainkan tenda yang gampang dibongkar dan dipindah. Surat itu menjelaskan alasannya. Ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang dirancang dan dibangun oleh Allah. Ia tahu tanah itu pun belum rumah sejatinya.
Ibrani menyebut mereka semua "orang asing dan pendatang di bumi ini." Bukan karena tak punya tempat, melainkan karena hati mereka merindukan tanah air yang lebih baik, yang surgawi. Mereka hidup seperti musafir yang tak pernah sepenuhnya membongkar kopor. Kitab Kebijaksanaan dalam bacaan pertama mengenang malam pembebasan dari Mesir, malam ketika nenek moyang berdiri dengan pinggang berikat, siap berangkat begitu tanda diberikan. Iman memang lahir dari orang-orang yang berani melangkah sebelum jalannya kelihatan jelas.
Injil hari ini melengkapinya dengan nada mendesak. "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." Seperti hamba yang menanti tuannya pulang, siap membuka pintu kapan saja ia datang. Bukan tegang ketakutan, melainkan berjaga penuh harap.
Di sinilah iman dan cara hidup bertemu. "Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Kalau seluruh harta kita tertanam di sini, hati kita akan berat dan susah diajak berangkat. Tetapi kalau harta kita di surga yang tidak dapat didekati pencuri, langkah kita jadi ringan.
Bukan berarti kita meremehkan rumah, pekerjaan, atau keluarga yang Tuhan titipkan. Itu semua kita cintai dan rawat. Tetapi kita merawatnya sebagai penumpang yang tahu diri, bukan sebagai pemilik yang mengira akan tinggal selamanya. Kalau hidup ini kemah, apa yang masih kupaku terlalu kuat ke tanah, sampai aku takut diajak berangkat?
Tuhan, jadikan hatiku hati seorang musafir. Cukup mencintai dunia untuk merawatnya, tetapi cukup lepas untuk selalu siap berangkat kepada-Mu. Amin.
Invitatorium
MINGGU III PAGI
Pembukaan
Ant. Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kita, alleluya.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kita, alleluya.
Ibadat Bacaan
Ibadat Bacaan untuk Hari Minggu dalam Masa Biasa
MADAH
Ant. 1 Tuhan, Allah kami, dalam keagungan dan kemuliaan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah, alleluya.
Mazmur 104
Nyanyian Pujian kepada Allah Pencipta
Berada dalam Kristus berarti menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Yang lama sudah berlalu, sekarang semuanya dijadikan baru (2 Korintus 5:17).
Ant. Tuhan, Allah kami, dalam keagungan dan kemuliaan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah, alleluya.
Ant. Tuhan, Allah kami, dalam keagungan dan kemuliaan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah, alleluya.
Ant. Tuhan, Allah kami, dalam keagungan dan kemuliaan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah, alleluya.
Ant. Tuhan, Allah kami, dalam keagungan dan kemuliaan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah, alleluya.
Ant. Tuhan, Allah kami, dalam keagungan dan kemuliaan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah, alleluya.
Ant. Tuhan, Allah kami, dalam keagungan dan kemuliaan Engkau berpakaian, terbungkus cahaya seperti jubah, alleluya.
Ant. 2 Tuhan telah mengeluarkan roti dari bumi, dan anggur untuk menghangatkan hati manusia, alleluya.
Ant. Tuhan telah mengeluarkan roti dari bumi, dan anggur untuk menghangatkan hati manusia, alleluya.
Ant. Tuhan telah mengeluarkan roti dari bumi, dan anggur untuk menghangatkan hati manusia, alleluya.
Ant. Tuhan telah mengeluarkan roti dari bumi, dan anggur untuk menghangatkan hati manusia, alleluya.
Ant. Tuhan telah mengeluarkan roti dari bumi, dan anggur untuk menghangatkan hati manusia, alleluya.
Ant. Tuhan telah mengeluarkan roti dari bumi, dan anggur untuk menghangatkan hati manusia, alleluya.
Ant. 3 Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
Ant. Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
Ant. Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
Ant. Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
Ant. Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
Ant. Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
Ant. Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
Ant. Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
Ant. Tuhan memandang semua yang telah dibuat-Nya dan melihat bahwa itu sangat baik, alleluya.
BACAAN
RESPONSORIUM Mazmur 9:8, 9; Amos 1:2
RESPONSORIUM Galatia 2:16; Kejadian 15:6
TE DEUM
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
MINGGU I PAGI
Pembukaan
Ant. Marilah kami bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kami, Alleluya.
MAZMUR 94 (95)
bersorak-sorai bagi penyelamat kami.
Menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur,
Ant. Marilah kami bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kami, Alleluya .
Madah
Ant.1: Ya Allah, aku mencari Engkau untuk merasakan kekuatan-Mu. Alleluya.
Mazmur 62
Ant.1: Ya Allah, aku mencari Engkau untuk merasakan kekuatan-Mu. Alleluya.
Ant.2: Tiga pemuda dalam tanur api serentak berseru: Terpujilah Allah. Alleluya.
Ant.2: Tiga pemuda dalam tanur api serentak berseru: Terpujilah Allah. Alleluya.
Ant.3: Para warga Sion bersukaria atas Rajanya. Alleluya.
Mazmur 149
Ant.3: Para warga Sion bersukacita atas Rajanya. Alleluya.
Bacaan Singkat (Mengapa 7,10.12)
Ant.Kidung (Mi V): Pagi-pagi buta sebelum fajar menyingsing, Yesus bangun dari tidur dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Di sana Ia berdoa.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Pagi-pagi buta sebelum fajar menyingsing, Yesus bangun dari tidur dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Di sana Ia berdoa.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Ibadat Siang
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
MINGGU I SIANG
Madah
Ant.1: Baiklah berlindung pada Tuhan; kekal abadi kasih setia-Nya, Alleluya.
Mazmur 117 (118)
Ant.1: Baiklah berlindung pada Tuhan; kekal abadi kasih setia-Nya, Alleluya.
Ant.2: Tuhanlah kekuatan dan pujaanku, Alleluya.
seperti nyala api yang menjilat-jilat,*
Ant.2: Tuhanlah kekuatan dan pujaanku, Alleluya.
Ant.3: Syukur kepada-Mu, Tuhan, Engkau mendengarkan daku, Alleluya.
kami memberkati Engkau dari dalam rumah Tuhan,*
Ant.3: Syukur kepada-Mu, Tuhan, Engkau mendengarkan daku, Alleluya.
Bacaan singkat (Gal 6,9-10)
Ibadat Sore
MINGGU I SORE I
Madah
Ant.1: Ya Tuhan, semoga doaku membubung ke hadapan-Mu bagaikan dupa.
Mazmur 140
Ant.1: Ya Tuhan, semoga doaku membubung ke hadapan-Mu bagaikan dupa.
Ant.2: Engkaulah pelindungku, ya Tuhan, milik pusakaku dalam hidup abadi.
Mazmur 141
Engkaulah pelindungku,*
Ant.2: Engkaulah pelindungku, ya Tuhan, milik pusakaku dalam hidup abadi.
Ant.3: Tuhan Yesus telah menghampakan diri; sebab Allah meninggikan Dia selama-lamanya.
Kristus Yesus tidak mau berpegang teguh,*
Ant.3: Tuhan Yesus telah menghampakan diri; sebab Allah meninggikan Dia selama-lamanya.
Ant.Kidung (Mi V): Kamu ini cahaya dunia. Cahayamu harus bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuji Bapa di surga.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant.Kidung: Kamu ini cahaya dunia. Cahayamu harus bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuji Bapa di surga.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - MINGGU II
Doa Tobat
Madah
Ant: Tuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Mazmur 90 (91)
Ant.: Tuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Bacaan singkat (Why 22,4-5)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
S. Laurensius
Diakon dan Martir · ± 225-258
Laurensius adalah salah satu dari tujuh diakon Gereja Roma pada abad ke-3. Menurut tradisi ia berasal dari Spanyol dan datang ke Roma, di mana Paus Sistus II mempercayakan kepadanya tugas mengurus harta benda Gereja dan menyantuni kaum miskin.
Pada tahun 258, di masa penganiayaan Kaisar Valerianus, Paus Sistus II dan para diakonnya ditangkap dan dihukum mati. Laurensius sendiri diperintahkan menyerahkan seluruh harta Gereja kepada penguasa Roma. Ia meminta waktu tiga hari, lalu membagikan segala harta itu kepada orang miskin, sakit, dan cacat.
Ketika kembali menghadap penguasa, ia menunjuk kerumunan kaum papa itu sambil berkata, Inilah harta Gereja yang sesungguhnya. Karena jawaban itu ia dihukum mati. Menurut kisah kuno yang termasyhur, ia dibakar di atas panggangan besi, dan dengan tenang ia berkata kepada algojonya bahwa sisi tubuhnya sudah matang dan boleh dibalik. Ketabahannya begitu mengesankan hingga membuat banyak warga Roma bertobat.
Penghormatan kepada Laurensius sudah sangat kuno dan namanya disebut dalam Doa Syukur Agung. Ia menjadi salah satu martir Roma yang paling dicintai.
Pelindung: para diakon, juru masak, dan petugas pemadam kebakaran.
Santo Laurensius
Martir
Laurensius termasuk salah satu dari ketujuh diakon agung yang bekerja membantu Sri Paus di Roma. Oleh Paus Sixtus II (257-258), Laurensius ditugaskan mengurus harta kekayaan Gereja dan membagi-bagikan derma kepada para fakir miskin di seluruh kota Roma. Ia juga melayani Sri Paus dalam setiap upacara keagamaan. Ketika Sri Paus Sixtus II ditangkap oleh serdadu-serdadu Romawi, Laurensius bertekad menemani dia sampai kematiannya. Kepada Paus, ia berkata: "Aku akan menyertaimu kemana saja engkau pergi. Tidaklah pantas seorang imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya." Sixtus terharu mendengar kata-kata Laurensius itu. Lalu ia berkata: "Janganlah sedih dan menangis, anakku! Aku tidak sendirian. Kristus menyertai aku. Dan engkau, tiga hari lagi, engkau akan mengikuti aku ke dalam kemuliaan surgawi".
Ramalan Sixtus itu ternyata benar-benar terjadi. Prefek kota Roma, yang tahu bahwa Gereja mempunyai sejumlah besar kekayaan, mendapat laporan bahwa Laurensius-lah yang mengurus semua kekayaan itu. Karena itu, Laurensius dihadapkan kepada penguasa Roma itu. Laurensius dibujuk agar secepatnya menyerahkan semua kekayaan Gereja itu kepada penguasa Roma. Dengan tenang Laurensius menjawab: "Baiklah, tuan! Dalam waktu tiga hari akan kuserahkan semua kekayaan ini kepadamu". Laurensius dibiarkan kembali ke kediamannya.
Ia segera mengumpulkan orang-orang miskin dan membagi-bagikan kekayaan Gereja kepada mereka. Di bawah pimpinannya, orang-orang miskin itu berarak menuju kediaman Prefek Roma. Kepada penguasa Roma itu, Laurensius berkata: "Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja yang saya jaga. Terimalah dan periharalah mereka dengan sebaik-baiknya."
Tindakan dan kata-kata Laurensius ini dianggap sebagai suatu olokan dan penghinaan terhadap penguasa Roma. Karena itu, ia ditangkap dan dipanggang hidup-hidup di atas terali besi yang panas membara. Laurensius tidak gentar sedikitpun menghadapi hukuman ini. Setelah separuh badannya bagian bawah hangus terbakar, ia meminta supaya badannya dibalik sehingga seluruhnya bisa hangus terbakar. "Sebelah bawah sudah hangus, baliklah badanku agar seluruhnya hangus!" katanya dengan sinis kepada para algojo yang menyiksanya. Laurensius akhirnya menghembuskan nafasnya di atas pemanggangan itu sebagai sekorang ksatria Kristus.
Kisah kemartirannya kita ketahui dari tulisan-tulisan Santo Agustinus. Di sana dikatakan bahwa orang-orang yang berdoa dengan perantaraan Laurensius terkabul doanya. "Karunia-karunia kecil diberikan kepada orang-orang yang berdoa dengan perantaraan Laurensius supaya mereka terdorong untuk memohon karunia yang lebih besar, yaitu cinta kasih kepada sesama dan kesetiaan kepada Kristus" demikian kata Santo Agustinus dalam salah satu tulisannya.