‹ Semua renungan

Rabu, 26 Februari 2031

Koyakkan Hatimu

Sehabis membakar sampah daun di halaman, yang tersisa hanya segenggam abu. Ringan, kelabu, tertiup sedikit angin pun buyar. Dari tumpukan yang tadinya setinggi lutut, tinggal itu. Hari ini abu semacam itu digoreskan di dahi kita, dengan kalimat yang tidak berbasa-basi: ingatlah, engkau debu, dan akan kembali menjadi debu.

Untuk apa Gereja mengingatkan hal segetir itu? Bukan untuk membuat kita murung, melainkan untuk membuat kita jujur. Manusia diambil dari tanah, humus dalam bahasa Latin. Dari kata itu pula lahir humilitas, kerendahan hati. Orang yang ingat asalnya tanah tidak sempat tinggi hati. Dan justru dari kejujuran semacam itulah pertobatan bisa dimulai.

Yoel menyampaikan undangan Allah dengan kata-kata yang menghunjam: berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu. Pada zaman itu orang mengoyak pakaian sebagai tanda duka. Mengoyak kain itu mudah dan kelihatan orang banyak. Mengoyak hati, membongkar kekerasan dan kepura-puraan di dalamnya, itulah yang mahal dan tidak kelihatan siapa-siapa.

Karena itu Yesus dalam Injil mengarahkan seluruh latihan Prapaskah ke tempat yang tidak kelihatan. Sedekah jangan dicanangkan. Doa masuklah ke dalam kamar dan tutuplah pintu. Puasa minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu. Tiga kali Ia mengulang janji yang sama: Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Prapaskah bukan panggung. Penontonnya hanya satu, yaitu Bapa.

Ketiga latihan itu menyembuhkan tiga arah hidup kita. Puasa membereskan hubungan dengan diri sendiri: aku bukan budak keinginanku. Sedekah membereskan hubungan dengan sesama: milikku bukan untukku saja. Doa membereskan hubungan dengan Allah: aku ini debu, tetapi debu yang dikasihi.

Paulus memberi tenggat yang tegas: sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; hari ini adalah hari penyelamatan itu. Bukan besok, bukan setelah keadaan membaik. Hari ini, selagi abu masih menempel di dahi.

Empat puluh hari terbentang di depan kita. Satu pertanyaan untuk membukanya: bagian hati mana yang selama ini kubungkus rapat, yang justru harus kukoyakkan di hadapan Allah?

Bapa yang melihat yang tersembunyi, aku datang sebagai debu. Koyakkanlah hatiku, dan ciptakanlah ia menjadi baru dalam empat puluh hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →