‹ Semua renungan

Minggu, 2 Maret 2031

Empat Puluh Hari Lapar

Ada rasa lapar yang tidak bisa ditipu. Anda bisa menahannya sejam, dua jam, tetapi pada jam kesekian tubuh mulai jujur. Perut berbunyi. Pikiran melayang ke dapur. Semua rencana besar menyusut menjadi satu keinginan sederhana: makan.

Injil hari ini membawa kita ke padang gurun, ke Yesus yang berpuasa empat puluh hari dan, kata Lukas dengan polos, 'Ia lapar'. Justru di titik terlemah itulah pencoba datang. Ia selalu datang saat kita paling kosong.

Godaan pertama menyentuh perut: ubahlah batu ini menjadi roti. Godaan kedua menyentuh kuasa: sembahlah aku, maka semua kerajaan jadi milik-Mu. Godaan ketiga menyentuh gengsi rohani: jatuhkan diri-Mu, biar malaikat menangkap-Mu, biar semua orang melihat. Roti, kuasa, tepuk tangan. Tiga pintu yang sampai hari ini masih diketuk di hati kita.

Yang menarik, Yesus tidak melawan dengan mukjizat. Ia melawan dengan ingatan. Tiga kali Ia menjawab, 'Ada tertulis.' Ia ingat firman. Ia ingat siapa Bapa-Nya.

Di sinilah Bacaan Pertama menolong. Orang Israel diminta membawa hasil panen sambil mengucapkan ingatan panjang: 'Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara.' Iman itu ternyata soal ingat. Ingat dari mana kita berasal, ingat siapa yang membawa kita keluar dari Mesir.

Orang Jawa punya nasihat yang pas untuk masa ini: eling lan waspada. Ingat dan berjaga. Bukan kebetulan keduanya sepasang. Kita jatuh biasanya bukan karena kurang pintar, melainkan karena lupa. Lupa bahwa hidup bukan dari roti saja.

Bacaan Kedua menunjuk ke mana ingatan itu bermuara. Kata Rasul Paulus, firman itu 'dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu'. Bila dengan hati kita percaya dan dengan mulut kita mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, kita diselamatkan. Melawan pencoba ternyata bukan soal kekuatan otot, melainkan soal mulut yang masih sanggup menyebut nama yang benar, tepat ketika godaan berbisik paling manis.

Prapaskah adalah empat puluh hari untuk melatih ingatan. Bukan supaya kita lebih keras kepada diri sendiri, melainkan supaya di jam paling lapar nanti, ketika pencoba mengetuk, kita masih tahu siapa kita dan milik siapa kita.

Apa 'roti' yang paling mudah membuat kita lupa kepada Tuhan, dan siapa yang paling ingin kita ingat kembali hari ini?

Tuhan Yesus, di padang gurun Engkau lapar tetapi tidak lupa. Jagalah ingatanku akan Engkau, terutama di saat aku paling kosong. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →