Minggu, 6 April 2031
Arak-arakan yang Berbalik
Kita mengenal arak-arakan. Ketika ada yang menang atau ada yang dihormati, orang berbaris, membawa daun, menabuh, bersorak di sepanjang jalan. Ada kegembiraan yang menular. Tetapi arak-arakan juga hal yang mudah berbalik. Kerumunan yang hari ini mengelu-elukan bisa besok berteriak menghujat, dengan mulut yang sama.
Hari ini, Minggu Palma, Gereja membuka Pekan Suci dengan sebuah arak-arakan. Kita memegang daun palma, mengenang Yesus masuk ke Yerusalem. Orang banyak menghamparkan pakaian dan ranting di jalan, berseru Hosana bagi Anak Daud. Sebuah penyambutan bagi seorang raja. Tetapi lihatlah tunggangan-Nya. Bukan kuda perang, melainkan seekor keledai muda, hewan beban yang jinak. Raja ini datang tanpa pasukan, tanpa pedang, tanpa gertak. Kebesaran-Nya justru terletak pada kerendahan-Nya.
Yang mengharukan, liturgi hari ini tidak berhenti pada sorak-sorai. Sesudah daun palma, kita langsung mendengar Kisah Sengsara. Dalam satu perayaan, kita berpindah dari Hosana ke Salibkan Dia. Dari jalan yang dialasi jubah menuju jalan menuju Golgota. Gereja sengaja menaruh keduanya berdampingan, supaya kita tidak lupa betapa tipis jarak antara memuji dan mengkhianati.
Sebab kerumunan itu, sejujurnya, adalah kita. Kita pun mudah bersemangat ketika iman terasa menyenangkan, ketika doa dikabulkan, ketika ikut Yesus tampak menguntungkan. Tetapi begitu jalan menanjak dan salib mulai terlihat, sorak kita pelan-pelan surut. Daun palma di tangan gampang dilambaikan. Salib di pundak berat dipikul.
Maka baiklah kita bertanya, arak-arakan yang mana yang bersedia kita ikuti sampai habis. Mudah berbaris di hari yang cerah. Yang menentukan adalah apakah kita masih berjalan bersama-Nya ketika arak-arakan sudah bubar, ketika sorak sudah berganti sepi, ketika mengikuti Dia tidak lagi memberi apa-apa selain salib.
Pekan ini kita diundang berjalan pelan, hari demi hari, mengiringi langkah Tuhan menuju kayu salib. Bukan sebagai penonton di pinggir jalan, melainkan sebagai orang yang ikut melangkah.
Ada satu tokoh yang mudah kita lupakan dalam kisah ini, yaitu keledai kecil yang dipinjam. Ia tidak mengerti apa-apa tentang nubuat, tidak tahu siapa yang didudukinya. Ia hanya berjalan, memikul Tuhan, membiarkan diri dipakai. Barangkali di situ pun ada teladan bagi kita. Tidak selalu kita harus mengerti seluruh rencana Allah. Kadang cukuplah kita bersedia memikul dan membiarkan diri dipakai, di jalan yang menaik maupun menurun.
Daun palma di tangan kita hari ini, akankah tetap kita genggam ketika jalan berubah menanjak?
Tuhan, jangan biarkan sorakku hari ini kosong. Kuatkanlah aku mengikuti Engkau bukan hanya di jalan yang dialasi jubah, melainkan juga di jalan menuju salib. Amin.