Kamis, 10 April 2031
Cinta yang Menunduk
Bagian tubuh yang paling jarang dipuji adalah kaki. Ia ada di paling bawah, paling jauh dari mata, paling sering kotor. Di negeri yang berdebu dan beralas sandal, kaki adalah bagian yang paling memalukan untuk diperlihatkan. Maka membasuh kaki orang lain adalah pekerjaan yang biasanya diserahkan kepada hamba yang paling rendah.
Malam itu, sebelum Paskah, Yesus bangkit dari meja, menanggalkan jubah-Nya, dan mengikatkan kain pada pinggang-Nya. Lalu Ia menuang air ke dalam basi dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya, satu per satu. Sang Guru dan Tuhan menunduk di depan kaki yang berdebu. Petrus terkejut, 'Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?' Kita pun akan terkejut. Ada urutan yang terbalik di sini. Yang di atas turun ke bawah.
Pada malam yang sama, tiga hal terjadi, dan ketiganya berbicara dengan bahasa yang sama. Dalam bacaan pertama, darah anak domba dioleskan pada tiang pintu, supaya maut lewat dari rumah itu. Dalam bacaan kedua, Yesus mengambil roti, memecahkannya, dan berkata, 'Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu.' Dalam Injil, Ia berlutut membasuh kaki. Darah yang melindungi, roti yang dipecah, kaki yang dibasuh. Tiga isyarat, satu cinta.
Dan cinta itu selalu bergerak ke arah yang sama, ke bawah. Ia menunduk. Ia merendah. Ia menyerahkan diri. Tidak satu pun dari ketiga isyarat itu berbicara tentang menguasai. Semuanya tentang memberi sampai habis.
Yesus lalu berkata, 'Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama.' Ekaristi yang kita rayakan bukan hanya untuk diterima di mulut, melainkan untuk ditiru dengan tangan dan lutut. Roti yang kita sambut mengutus kita menunduk di depan kaki sesama.
Ada satu hal kecil yang mengharukan dalam kisah ini. Yesus membasuh kaki semua murid, termasuk kaki Yudas, yang sebentar lagi akan mengkhianati-Nya. Ia tahu, dan tetap menunduk di depan kaki itu. Cinta yang menunduk tidak memilih-milih siapa yang pantas. Ia melayani bahkan mereka yang akan menyakiti kita, sebab kasih sejati tidak bergantung pada balasan.
Sering kita ingin mengasihi dari posisi yang nyaman, dari atas, sambil tetap dihormati. Tetapi cinta model Yesus menuntut kita turun, mengambil basi dan kain, mengerjakan yang rendah tanpa merasa jatuh martabat.
Kaki siapa yang hari ini Tuhan minta kita basuh, justru ketika kita merasa terlalu tinggi untuk menunduk?
Tuhan, Engkau yang berlutut di depan kaki murid-murid-Mu, ajarilah aku mencintai dengan menunduk, bukan dengan menguasai. Amin.