Selasa, 15 April 2031
Dipanggil dengan Nama
Di tengah keramaian pasar, seorang anak bisa mengenali suara ibunya memanggil namanya, walau puluhan suara lain bersahutan. Bukan karena suara itu paling keras, melainkan karena ia paling dikenal. Ada nada tertentu, cara tertentu menyebut nama kita, yang hanya dimiliki orang yang sungguh mengasihi kita. Nama kita di mulut orang yang tepat terdengar berbeda.
Maria Magdalena berdiri menangis di dekat kubur. Ia mencari mayat, dan karena itu ia tidak mengenali yang hidup. Bahkan ketika Yesus sudah berdiri di depannya dan bertanya, 'Ibu, mengapa engkau menangis?', ia mengira Dia penunggu taman. Air mata membuat matanya kabur. Duka membuat ia salah mengenali. Ia sedang berbicara dengan Tuhan yang dicarinya, tanpa tahu bahwa itu Dia.
Lalu Yesus mengucapkan satu kata, 'Maria.' Hanya namanya. Dan seketika ia mengenali. 'Rabuni,' serunya, artinya Guru. Yang tidak dikenali lewat penglihatan, dikenali lewat panggilan. Ternyata Maria tidak perlu penjelasan panjang. Ia hanya perlu mendengar namanya disebut oleh suara yang paling dikenalnya.
Ada sesuatu yang menghibur di sini. Kadang kita mencari Tuhan dan tidak menemukan-Nya, karena kita mencari-Nya dalam bentuk yang kita bayangkan sendiri. Kita menunggu penampakan besar, tanda yang mengguncang, jawaban yang jelas. Padahal boleh jadi Tuhan justru datang dengan cara yang paling lembut, dengan menyebut nama kita, pelan, di tengah tangis kita.
Dalam bacaan pertama, orang banyak yang mendengar khotbah Petrus sangat terharu dan bertanya, 'Apakah yang harus kami perbuat?' Mereka pun sedang dipanggil, masing-masing, untuk bertobat dan dibaptis. Hari itu tiga ribu orang menyambut panggilan itu. Panggilan yang mulanya ditujukan kepada satu perempuan yang menangis, kini bergema kepada ribuan.
Yesus lalu berkata sesuatu yang mengejutkan, jangan engkau memegang Aku. Maria ingin menahan momen itu, menggenggam Tuhan yang baru saja ditemukannya. Tetapi Yesus mengutusnya pergi, kabarkan kepada saudara-saudara-Ku. Perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit tidak untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagikan. Maria yang tadi mencari mayat, kini menjadi orang pertama yang memberitakan kehidupan.
Tuhan tidak memanggil kita sebagai kerumunan yang tak bernama. Ia memanggil kita satu per satu, dengan nama kita masing-masing, seperti gembala yang mengenal setiap dombanya.
Di tengah dukamu yang membuat mata kabur, sudahkah kau mendengar Tuhan menyebut namamu dengan lembut?
Tuhan, panggillah aku dengan namaku, dan bukalah mataku agar mengenali Engkau yang berdiri dekat, justru ketika aku menangis. Amin.