Rabu, 23 April 2031
Membenci Terang
Ada satu hal aneh tentang manusia. Ketika kamar berantakan, kita justru enggan menyalakan lampu. Dalam gelap, debu tak kelihatan, piring kotor tersembunyi, semuanya seolah baik-baik saja. Lampu menyala membuat kita malu, sebab ia memperlihatkan apa yang selama ini kita biarkan.
Injil hari ini menyentuh persis hal itu. 'Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.' Bukan karena mereka tidak tahu terang itu baik. Justru karena tahu, mereka menghindarinya. Sebab terang menuntut kejujuran, dan kejujuran kadang menyakitkan.
Namun ayat sebelumnya sudah menghibur lebih dulu. 'Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.' Terang itu datang bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menyelamatkan. Ia menyingkap kegelapan justru supaya bisa menyembuhkannya.
Hari ini Gereja mengenang Santo Georgius, prajurit yang menurut kisah lama berani menghadapi naga demi membela yang lemah. Entah seberapa harfiah cerita itu, maknanya jelas. Ada naga-naga ketakutan dan kejahatan yang hanya bisa dikalahkan oleh orang yang berani berdiri di dalam terang. Seperti para rasul dalam bacaan pertama, yang malam itu dibebaskan malaikat dari penjara, lalu disuruh berdiri terang-terangan di Bait Allah dan berbicara tanpa sembunyi.
Adakah sudut hidup kita yang sengaja kita biarkan gelap, karena kita takut pada apa yang akan terlihat bila terang Tuhan menyinarinya?
Tuhan, berilah aku keberanian berdiri di dalam terang-Mu, sekalipun ia menyingkap apa yang ingin kusembunyikan. Amin.