Senin, 28 April 2031
Makanan yang Cepat Basi
Di dapur, ada perang diam-diam melawan waktu. Sayur layu dalam dua hari, roti berjamur, susu masam bila terlambat sehari. Kita membeli, menyimpan, dan sebagian terpaksa dibuang karena telanjur basi. Hampir semua yang kita makan punya batas waktu. Ia mengenyangkan hari ini, tetapi besok bisa berubah menjadi sampah.
Kemarin orang banyak mengikuti Yesus setelah diberi makan roti sampai kenyang. Hari ini Yesus menegur kerinduan mereka, 'Kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.' Mereka mengejar-Nya bukan karena rindu pada pemberi, melainkan karena rindu pada pemberian. Yang mereka cari hanya perut yang kenyang.
Maka Yesus mengarahkan mereka lebih jauh, 'Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.' Bukan berarti roti sehari-hari tidak penting. Yesus sendiri memberi mereka makan. Tetapi Ia tidak ingin kita berhenti pada yang cepat basi, dan lupa pada yang tidak pernah kedaluwarsa.
Dalam bacaan pertama, Stefanus memperlihatkan makanan yang lain itu. Di depan orang-orang yang membencinya, wajahnya justru bercahaya seperti muka seorang malaikat. Ia dikenyangkan oleh sesuatu yang tidak bisa direbut dan tidak bisa basi, yaitu Roh dan hikmat dari Allah.
Untuk apa sebenarnya kita bekerja paling keras hari ini, untuk yang mengenyangkan sebentar, atau untuk yang bertahan sampai kekal?
Tuhan, jangan biarkan aku menghabiskan seluruh hidupku hanya mengejar yang cepat basi. Berilah aku lapar akan Engkau. Amin.