‹ Semua renungan

Minggu, 4 Mei 2031

Kenal Suara

Di kampung, menjelang magrib, ibu-ibu berdiri di depan pintu memanggil anaknya pulang. Suara itu bersahutan dengan banyak suara lain: penjual bakso, anak-anak tetangga, azan dari surau. Anehnya, setiap anak tahu persis mana panggilan ibunya. Tidak perlu menoleh dua kali. Telinga kecil itu sudah bertahun-tahun dilatih oleh satu suara.

Hari Minggu Paskah keempat ini disebut Minggu Gembala Baik. Injilnya pendek saja, empat ayat. Tetapi di dalamnya Yesus menyimpulkan seluruh relasi-Nya dengan kita: "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku."

Perhatikan urutannya. Bukan domba yang lebih dulu mengenal, melainkan gembala. Aku mengenal mereka, kata Yesus. Kita dikenal jauh sebelum kita belajar mendengarkan. Seperti ibu yang hafal tangis anaknya di antara tangis bayi-bayi lain di rumah bersalin, Allah mengenali kita satu per satu, dengan nama.

Masalahnya, dunia ini pasar suara. Ada suara yang membujuk, ada yang menakut-nakuti, ada yang menawarkan jalan pintas. Semuanya mengaku gembala. Bagaimana membedakannya? Sama seperti anak kampung tadi: telinga harus sering mendengar suara aslinya. Orang yang jarang berdoa akan gampang salah dengar. Orang yang akrab dengan Injil lama-lama punya semacam naluri: yang ini suara Dia, yang itu bukan.

Bacaan kedua dari kitab Wahyu memberi gambar yang mengejutkan. Anak Domba itu justru yang akan menggembalakan mereka. Domba menjadi gembala? Ya. Gembala kita bukan mandor yang memerintah dari jauh. Ia pernah menjadi domba, pernah digiring, pernah merasakan haus dan air mata. Maka janji-Nya bisa dipercaya: mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.

Dan ada satu kalimat yang layak dibawa pulang minggu ini: "Seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku." Hidup kita bisa direbut banyak hal. Pekerjaan bisa hilang, kesehatan bisa menurun, rencana bisa gagal. Tetapi ada satu genggaman yang tidak bisa dibuka paksa oleh apa pun. Kita boleh saja jatuh. Kita tidak akan pernah terlepas.

Di tengah dunia yang riuh, mari latih telinga. Sisihkan waktu hening setiap hari, sesederhana anak yang berhenti bermain sejenak karena mendengar namanya dipanggil dari depan rumah.

Yesus, Gembala Baik, jadikan telingaku akrab dengan suara-Mu, dan jangan biarkan tangan-Mu melepaskan aku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →