Rabu, 21 Mei 2031
Mezbah Tak Bernama
Kota besar mana pun penuh tugu dan papan nama. Semuanya menegaskan satu hal: manusia ingin mengabadikan apa yang ia kenal. Maka mezbah yang dijumpai Paulus di Atena menjadi aneh sekali: "Kepada Allah yang tidak dikenal." Sebuah tugu untuk kerinduan yang tak beralamat.
Orang Atena sesungguhnya sedang jujur. Mereka sudah menyembah banyak dewa, tetapi hati mereka tahu masih ada yang belum tersentuh. Mezbah kosong itu adalah pengakuan: pencarian kami belum selesai.
Paulus, yang tiba dari penjara Filipi lewat perjalanan panjang, tidak mengejek mereka. Ia justru berangkat dari situ: "Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu." Lalu kalimatnya yang termasyhur: di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada. Allah tidak jauh; kitalah yang belum menoleh.
Zaman ini pun penuh mezbah tak bernama. Orang mengejar ketenangan lewat wisata, mencari makna lewat buku-buku, menimbun capaian, tetapi tetap merasa ada ruang kosong. Kerinduan itu bukan penyakit. Ia kompas.
Hasil khotbah Paulus tampak kecil: ada yang mengejek, ada yang menunda. Tetapi beberapa orang percaya. Bagi satu kerinduan yang akhirnya menemukan alamatnya, semuanya berharga.
Allah yang hidup, Engkau dekat. Ajarilah aku menoleh, supaya kerinduanku menemukan nama-Mu. Amin.