Kamis, 19 Juni 2031
Bapa Kami, Bukan Bapaku
Perhatikan satu kata kecil dalam doa yang paling sering kita ucapkan. Yesus tidak mengajari kita berdoa “Bapaku”, melainkan “Bapa kami”. Sejak kata pertama, doa itu sudah menolak kesendirian. Bahkan ketika kita berdoa seorang diri di kamar yang terkunci, mulut kita tetap menyebut kami, seakan seluruh saudara ikut berlutut di samping kita.
Sebelum mengajarkan doa itu, Yesus memperingatkan supaya kita tidak bertele-tele seperti orang yang mengira doa dikabulkan karena banyaknya kata. Bapa, kata-Nya, sudah tahu apa yang kita perlukan sebelum kita minta. Kalau begitu, untuk apa berdoa? Bukan untuk memberi tahu Allah, melainkan untuk menata hati kita sendiri di hadapan-Nya.
Dan lihat apa yang kita minta: makanan secukupnya, bukan berlimpah. Pengampunan, yang langsung diikat dengan syarat, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Yesus bahkan menegaskannya sekali lagi seusai doa itu. Kalau kita tidak mengampuni, Bapa pun tidak mengampuni kita.
Ini bagian yang paling tidak nyaman. Kita ingin diampuni tanpa syarat, tetapi disuruh mengampuni lebih dulu. Rupanya pengampunan itu seperti pintu; ia hanya bisa terbuka ke dua arah sekaligus. Tangan yang mengepal menahan kesalahan orang lain tidak bisa sekaligus terbuka menerima pengampunan.
Hari ini, ketika menyebut Bapa kami, siapa nama yang paling berat kita ikutkan dalam kata kami itu?
Bapa kami, ajarilah aku mengampuni sebagaimana aku ingin diampuni, supaya doaku tidak berhenti di bibir. Amin.