Jumat, 27 Juni 2031
Tangan yang Terulur
Ada penyakit yang menyakiti dua kali. Sekali karena lukanya, sekali lagi karena orang menjauh. Penderita kusta di zaman Yesus mengalami keduanya. Selain tubuh yang rusak, mereka dibuang dari kampung, dilarang mendekat, harus berteriak najis, najis bila ada orang lewat. Bertahun-tahun tak ada tangan yang menyentuh mereka.
Maka perhatikan baik-baik apa yang dilakukan Yesus dalam Injil hari ini. Seorang kusta datang sujud dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Yesus bisa saja menyembuhkannya dari jauh, cukup dengan sepatah kata. Tetapi Injil mencatat sesuatu yang mengejutkan: “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu.” Ia menyentuh yang tak boleh disentuh. Sebelum kusta itu hilang, kesepian orang itu sudah lebih dulu disembuhkan oleh satu sentuhan.
Biasanya najis menular kepada yang bersih. Di tangan Yesus, arahnya terbalik. Bukan Ia yang menjadi najis, melainkan orang itu yang menjadi tahir. Kekudusan-Nya lebih kuat daripada kenajisan mana pun.
Bacaan pertama mengingatkan bahwa Allah memang senang menjangkau yang mustahil. Abraham yang berumur hampir seratus tahun tertawa mendengar ia akan punya anak. Tetapi apa yang ditertawakan sebagai mustahil justru digenapi Allah tepat pada waktunya.
Adakah orang di sekitar kita yang lama tak tersentuh, dijauhi karena masa lalu atau keadaannya? Mungkin tangan kita hari ini dipanggil untuk terulur, seperti tangan Yesus.
Tuhan, uluran tangan-Mu menyembuhkan yang terbuang. Berilah aku keberanian menyentuh mereka yang dijauhi orang. Amin.