Senin, 1 September 2031
Duka yang Berjendela
Di depan rumah duka, papan bunga berjajar. Turut berduka cita. Semoga keluarga tabah. Kata-katanya tulus, tetapi jarang menjawab pertanyaan yang paling perih: sesudah ini, apa? Ke mana orang yang kita cintai itu pergi?
Paulus tidak melarang jemaat Tesalonika menangis. Ia hanya melarang satu hal: berduka seperti orang yang tidak mempunyai pengharapan. Duka orang beriman tetaplah duka. Air matanya sama asinnya. Bedanya, duka itu punya jendela. Dari jendela itu tampak Kristus yang bangkit, dan bersama Dia, mereka yang telah mendahului kita. Kematian bukan tembok buntu. Ia pintu yang sudah pernah dibuka dari dalam.
Di Nazaret, Yesus membuka gulungan Yesaya dan mengumumkan tahun rahmat Tuhan. Kabar baik bagi yang miskin. Pembebasan bagi yang tertawan. Termasuk kita yang tertawan oleh kehilangan.
Paulus menutup suratnya dengan tugas: hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini. Penghiburan Kristiani bukan basa-basi papan bunga. Ia mengabarkan harapan. Hari ini, adakah orang di sekitar kita yang berduka dan menunggu kalimat yang lebih dari sekadar semoga tabah?
Tuhan Yesus, Engkau telah membuka pintu maut dari dalam. Jadikanlah aku pembawa penghiburan-Mu bagi mereka yang berduka. Amin.