Jumat, 12 September 2031
Kelilipan
Pernah kelilipan? Debu sekecil itu, tak kelihatan oleh orang lain, tetapi rasanya seluruh dunia ikut mengganjal. Mata berair, kepala miring-miring, semua kegiatan berhenti. Untuk benda sehalus debu, mata kita luar biasa peka.
Anehnya, kepekaan itu sering salah alamat. Kita jeli sekali melihat debu di mata orang lain. Yesus menggambarkannya dengan jenaka: mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bayangkan gambarnya. Orang berjalan dengan balok kayu menancap di wajah, sibuk menawarkan diri mencabut serpihan di mata tetangga. Para pendengar Yesus mungkin tertawa. Lalu diam, karena tersindir.
Kemarin kita mendengar sabda-Nya: jangan menghakimi, sebab ukuran yang kamu pakai akan diukurkan kepadamu. Hari ini Ia memberi alasannya. Penghakiman kita hampir selalu dilakukan dengan mata yang belum bersih. Orang buta menuntun orang buta, keduanya masuk lubang.
Yesus tidak melarang kita menolong saudara membersihkan matanya. Ia hanya menetapkan urutannya: keluarkanlah dahulu balok dari matamu. Koreksi diri dulu, baru koreksi orang.
Balok apa yang sedang kubiarkan di mataku sendiri, sementara aku sibuk mengomentari selumbar orang lain?
Tuhan, bersihkanlah dulu mataku, supaya pandanganku kepada sesama menjadi jernih dan penuh kasih. Amin.