Minggu, 14 September 2031
Penawar dari Bisa
Ada satu fakta medis yang selalu membuat saya takjub: penawar bisa ular dibuat dari bisa ular itu sendiri. Racun diambil dari taring si ular, disuntikkan sedikit demi sedikit ke tubuh kuda, lalu dari darah kuda itu diambil serum penyelamat. Zat yang mematikan diolah menjadi obat kehidupan. Yang meracuni justru menjadi bahan penawarnya.
Hari ini, meski jatuh pada hari Minggu, Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Dan bacaan-bacaannya bercerita persis tentang logika serum itu.
Di padang gurun, bangsa Israel yang bersungut-sungut dipagut ular-ular tedung. Banyak yang mati. Lalu Allah memberi jalan keselamatan yang aneh: Musa disuruh membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Setiap orang yang terpagut, jika memandangnya, akan tetap hidup. Coba pikirkan. Mereka tidak disuruh memandang sesuatu yang indah. Mereka disuruh memandang rupa dari hal yang justru melukai mereka. Kesembuhan datang bukan dengan membuang muka dari luka, melainkan dengan memandangnya dalam iman.
Yesus sendiri mengambil gambar itu untuk diri-Nya: sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Salib adalah alat hukuman paling kejam yang dikenal dunia Romawi. Racun kebencian manusia terkumpul di sana. Dan justru dari sana Allah meramu penawar bagi dunia: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.
Itulah sebabnya orang Kristiani melakukan hal yang bagi orang luar mungkin ganjil. Kita menggantung alat eksekusi di dinding rumah. Kita mengalungkannya di leher. Kita menggoreskannya di dahi anak-anak sebelum tidur. Bukan karena kita menyukai penderitaan, melainkan karena kita percaya: Allah telah mengubah tanda maut menjadi tanda kasih. Ia tidak menghapus penderitaan dari luar. Ia masuk ke dalamnya, meminumnya sampai tandas, dan mengubahnya dari dalam.
Maka pesta hari ini bukan perayaan kayu, melainkan perayaan cara Allah mengasihi. Sebab Allah mengutus Anak-Nya bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Kita masing-masing membawa pagutan ular: luka lama, kegagalan, dosa yang memalukan. Naluri kita membuang muka darinya. Hari ini kita diundang melakukan yang sebaliknya: memandang salib, dan di dalam terangnya berani memandang luka kita sendiri. Sebab di tangan Allah, yang pernah meracuni kita pun bisa menjadi bahan penawar, sumber bela rasa bagi sesama yang terluka sama.
Luka mana dalam hidupku yang selama ini kuhindari, dan beranikah aku memandangnya hari ini bersama Dia yang tersalib?
Tuhan Yesus, yang ditinggikan di kayu salib, pandanglah aku yang memandang-Mu, dan ubahlah racun lukaku menjadi obat kehidupan. Amin.