Kamis, 18 September 2031
Ejekan yang Menjadi Gelar
Kemarin kita mendengar orang-orang mengejek Yesus: pelahap, peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Hari ini ejekan itu terbukti benar. Dan ternyata indah sekali.
Di rumah Simon orang Farisi, seorang perempuan yang terkenal berdosa menerobos masuk. Ia menangis di kaki Yesus, membasahi kaki itu dengan air mata, menyekanya dengan rambut, meminyakinya dengan minyak wangi dari buli-buli pualam. Simon membatin: kalau Ia nabi, pasti Ia tahu perempuan apa ini.
Yesus tahu. Justru karena tahu, Ia membiarkannya. Lalu Ia bercerita tentang dua orang yang dihapuskan hutangnya, lima ratus dinar dan lima puluh dinar. Siapa yang lebih mengasihi? Yang lebih banyak dihapuskan, jawab Simon. Betul. Perempuan itu mengasihi sebanyak itu karena ia tahu persis betapa banyak yang diampuni padanya. Simon mengasihi sedikit, bukan karena dosanya sedikit, melainkan karena ia merasa tidak berhutang.
Di situlah bahayanya merasa benar. Orang yang tidak pernah merasa diampuni tidak akan pernah belajar mencintai.
Kapan terakhir kali aku sungguh tersentuh oleh pengampunan Allah, sampai ingin memberikan yang terbaik seperti buli-buli pualam itu?
Tuhan, sahabat orang berdosa, ingatkan aku betapa banyak hutangku yang telah Kauhapus, supaya kasihku tidak lagi pelit. Amin.