‹ Semua renungan

Sabtu, 27 September 2031

Biji Mata

Tubuh kita punya refleks yang menakjubkan. Ada benda melayang ke arah wajah, kelopak mata menutup sendiri sebelum kita sempat berpikir. Tangan otomatis terangkat melindungi. Seluruh badan rupanya sepakat: mata harus dijaga lebih dari segalanya.

Nabi Zakharia memakai gambar itu untuk melukiskan kasih Allah kepada umat-Nya yang kecil dan terbuang: siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya. Pikirkanlah sebentar. Umat yang sedang dijarah bangsa-bangsa itu bukan pinggiran bagi Allah. Mereka bagian tubuh-Nya yang paling peka. Menyakiti mereka berarti membuat Allah refleks bertindak.

Hari ini Gereja mengenang orang yang sungguh mempercayai ayat itu: Santo Vinsensius a Paulo. Baginya, orang miskin bukan objek belas kasihan, melainkan biji mata Allah. Ia melayani mereka seperti orang menjaga matanya sendiri: hati-hati, hormat, tanpa kasar.

Di Injil, sementara semua orang masih takjub oleh mukjizat, Yesus berbicara untuk kedua kalinya tentang jalan-Nya: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Biji mata Allah yang paling berharga justru membiarkan diri-Nya dijamah dan dilukai, demi kita.

Siapa orang kecil di dekatku yang selama ini kuperlakukan sembarangan, padahal ia biji mata Allah?

Tuhan, berilah aku refleks kasih-Mu: sigap melindungi mereka yang Kaupandang sebagai biji mata-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →