Jumat, 24 Oktober 2031
Pandai Membaca Langit
Petani dan nelayan adalah pembaca langit yang ulung. Awan naik di barat berarti hujan; angin selatan bertiup berarti panas terik. Tanpa sekolah cuaca, mereka jarang keliru. Yesus mengakui keahlian itu, lalu bertanya tajam: 'Rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapa kamu tidak dapat menilai zaman ini?'
Kemarin Ia berbicara tentang api yang memilah; hari ini Ia menegur kita yang pandai membaca segala hal di luar diri: cuaca, harga pasar, gelagat atasan. Tetapi tanda-tanda yang menyangkut jiwa sendiri sering kita biarkan lewat. Hati yang makin kering, doa yang makin jarang, kata-kata yang makin tajam: semua itu awan gelap yang naik pelan-pelan, dan kita pura-pura tidak melihat.
Paulus hari ini jujur luar biasa tentang cuaca batinnya: 'Bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan yang jahat.' Rasul besar pun mengakui perang di dalam dirinya. Tetapi ia tahu ke mana berlari: 'Syukur kepada Allah, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.'
Santo Yohanes Paulus II gemar mengajak Gereja membaca tanda-tanda zaman dengan mata iman. Mulailah dari zaman kecil di dalam dada: awan apa yang sedang naik di langit hatiku, dan beranikah aku menamainya hari ini?
Tuhan, berilah aku kejelian membaca musim jiwaku, dan rahmat berdamai dengan-Mu selagi masih di tengah jalan. Amin.