‹ Semua renungan

Sabtu, 22 November 2031

Lagu yang Diteruskan

Ada lagu-lagu yang tidak pernah benar-benar berhenti. Seorang ibu menyanyikannya untuk anaknya, lalu si anak menyanyikannya lagi untuk cucunya. Penyanyi pertamanya sudah lama tiada, tetapi lagunya masih terdengar. Nada itu diteruskan dari mulut ke mulut, melewati batas kematian.

Hari ini Gereja mengenang Santa Sesilia, pelindung para pemusik. Tradisi mengisahkan bahwa di tengah pesta pernikahannya, sementara musik mengalun, hatinya justru bernyanyi kepada Tuhan seorang. Nyanyian batin yang tidak berhenti bahkan ketika ia menghadapi kematian sebagai martir.

Dari mana keberanian seperti itu? Injil hari ini memberi dasarnya. Orang-orang Saduki, yang tidak percaya kebangkitan, mencoba menjebak Yesus dengan teka-teki tentang perempuan yang tujuh kali menjanda. Jawaban Yesus melampaui jebakan itu: Allah bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.

Bandingkan dengan Bacaan Pertama. Raja Antiokhus, yang dulu berkuasa dan ditakuti, mati dalam kesedihan di negeri asing, tersiksa oleh ingatan akan kejahatannya sendiri. Dua cara menutup mata: yang satu tenggelam dalam sesal tanpa harapan, yang lain berpulang sambil bernyanyi, karena tahu nyanyian itu akan diteruskan di hadapan Allah orang hidup.

Kematian bukan tanda musik selesai. Bagi orang beriman, ia hanya jeda sebelum lagu yang sama dilanjutkan di rumah Bapa. Lagu apa yang sedang kunyanyikan dengan hidupku, yang layak diteruskan sampai ke sana?

Tuhan, Engkau Allah orang hidup. Ajarilah aku bernyanyi bagi-Mu seperti Sesilia, dengan lagu yang tidak berhenti bahkan oleh kematian. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →