Kamis, 4 Desember 2031
Gerbang yang Dibuka
Kemarin kita berdiri di gunung, di depan meja perjamuan yang disediakan bagi segala bangsa. Hari ini Yesaya membawa kita ke sebuah kota berbenteng. Tetapi ada yang aneh dengan kota ini.
Kota yang kuat biasanya menutup rapat gerbangnya. Semakin tebal tembok, semakin sedikit pintu. Namun nyanyian ini justru berseru, "Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia!" Benteng yang paling aman ternyata bukan yang paling tertutup.
Di mana letak kekuatannya kalau begitu? Ayat berikutnya menjawab, "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." Rupanya tembok yang sesungguhnya bukan batu, melainkan kepercayaan. Orang yang bersandar penuh pada Tuhan bisa membuka gerbang lebar-lebar tanpa gemetar.
Kita sering keliru. Kita mengira aman berarti menutup diri: memasang pagar makin tinggi, curiga pada setiap ketukan, menghitung siapa boleh masuk dan siapa harus diusir. Padahal jiwa yang percaya pada Tuhan justru mampu ramah. Ia tidak takut kehilangan, sebab yang menjaganya bukan tembok buatan sendiri.
Adven bertanya pelan. Gerbang mana dalam diri kita yang masih kita palang rapat karena takut, padahal Tuhan ingin masuk lewat situ?
Tuhan, jadilah benteng hatiku, supaya aku cukup aman untuk membuka pintu bagi sesama. Amin.