Minggu, 14 Desember 2031
Empat Perempuan dalam Daftar
Coba buka daftar silsilah keluarga sendiri, kalau ada yang menyimpannya. Biasanya yang ditulis rapi adalah nama-nama yang membanggakan: kakek yang dihormati, leluhur yang berjasa. Nama-nama yang memalukan cenderung dihapus diam-diam. Anak yang lari dari rumah, kerabat yang berbuat aib, pernikahan yang gagal. Silsilah manusia biasanya sudah disaring sebelum ditulis.
Maka silsilah Yesus di awal Injil Matius terasa aneh. Di tengah deretan bapak-bapak yang panjang, tiba-tiba muncul empat nama perempuan. Dan bukan sembarang perempuan. Tamar, yang menyamar untuk memperdaya mertuanya. Rahab, seorang sundal dari Yerikho. Rut, perempuan asing dari Moab. Dan satu lagi disebut bukan dengan namanya, melainkan sebagai isteri Uria, mengingatkan pada dosa Daud yang paling gelap.
Mengapa keempatnya dibiarkan tercantum? Bukankah lebih mudah menuliskan silsilah yang bersih, penuh nama terhormat, cocok untuk seorang Raja? Justru di sinilah letak kabar gembira hari Minggu Gaudete. Kata Gaudete berarti bersukacitalah. Dan sukacitanya begini: rahmat Allah mengalir lewat garis keturunan yang berantakan.
Ada perempuan yang berbuat curang, ada yang berasal dari profesi yang dihina, ada yang bukan orang Israel, ada yang menjadi korban sekaligus terlibat dalam skandal. Semuanya dipeluk, tak ada yang dicoret. Sebab Allah tidak menunggu keluarga yang sempurna untuk masuk ke dalamnya. Ia justru memilih masuk lewat pintu yang paling tidak kita duga.
Bacaan pertama menubuatkan bahwa dari Yehuda tongkat kerajaan tidak akan beranjak. Yehuda sendiri bukan tokoh suci. Ia pernah menjual adiknya, pernah berbuat salah pada Tamar. Toh dari dialah garis Sang Raja diteruskan. Allah tidak menunggu bahan yang mulus.
Ini melegakan bagi siapa pun yang menyimpan aib dalam pohon keluarganya. Dan siapa yang tidak? Setiap keluarga punya nama yang tak enak disebut, luka yang belum sembuh, cerita yang ditutup rapat. Injil hari ini seakan berkata, justru di garis seperti itulah Allah biasa bekerja.
Sukacita Gaudete bukan sukacita orang yang merasa dirinya bersih. Itu sukacita orang yang tahu dirinya tercantum dalam daftar yang tak sempurna, dan menyadari bahwa Sang Raja tetap mau lahir dari situ. Kita tidak perlu silsilah yang mulus untuk dipakai Allah. Kita hanya perlu tidak menyembunyikan diri.
Tuhan, Engkau lahir dari garis keturunan yang penuh luka dan aib. Peluklah keluargaku dengan segala ceritanya yang tak sempurna, dan pakailah kami tetap. Amin.