‹ Semua renungan

Senin, 29 Desember 2031

Rahmat di Atas Rahmat

Ada pengalaman kecil yang menyenangkan di pasar tradisional. Sesudah menimbang belanjaan, penjual yang murah hati kerap menambahkan sedikit lagi. Sudah dibayar lunas, tetapi ia masih menyelipkan seikat daun bawang atau sebutir cabai, sambil berkata, ini bonus. Kebaikan yang tidak berhenti pada takarannya.

Injil Yohanes memakai gambaran yang mirip untuk melukiskan apa yang kita terima dari Sang Bayi Natal. "Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia." Kalimat itu, dalam bahasa aslinya, berarti rahmat yang menggantikan rahmat, rahmat yang bertumpuk di atas rahmat. Bukan satu takaran lalu habis, melainkan gelombang yang datang susul-menyusul.

Bayangkan ombak di pantai. Belum sempat surut satu ombak, ombak berikutnya sudah datang. Beginilah cara Allah memberi. Kita belum selesai mensyukuri satu berkat, berkat lain sudah tiba. Napas hari ini, makanan hari ini, orang-orang yang mengasihi kita hari ini, semuanya datang bergelombang tanpa kita minta.

Natal adalah puncak dari gelombang itu. Surat kepada orang Ibrani mengingatkan bahwa dahulu Allah berbicara berulang kali dan dalam pelbagai cara melalui para nabi. Sepotong demi sepotong, sedikit demi sedikit, seperti bonus yang diselipkan dari waktu ke waktu. Tetapi kini, kata surat itu, Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya. Bukan lagi utusan, melainkan Sang Anak sendiri.

Di sinilah letak kelimpahan Natal yang gampang kita lewatkan. Kita sibuk menghitung apa yang belum kita punya, apa yang kurang, apa yang gagal tahun ini. Sementara dari palungan, gelombang rahmat terus datang, satu demi satu, tak menunggu kita pantas dulu.

Nabi Yesaya bersorak, "TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem." Ia memakai kata kerja lampau, seolah sudah terjadi, padahal saat itu belum tampak. Sebab orang yang percaya pada kemurahan Allah bisa bersyukur atas ombak yang belum menyentuh kaki, karena tahu ombak itu pasti datang.

Barangkali cara terbaik merayakan hari-hari Natal ini bukan dengan menambah daftar keinginan, melainkan dengan berhenti sejenak dan menghitung ombak. Berapa banyak rahmat yang sudah datang susul-menyusul, yang tak pernah kita bayar, yang tak pernah kita minta? Sebab menghitung kemurahan jauh lebih menyembuhkan daripada menghitung kekurangan.

Tuhan, dari kepenuhan-Mu Engkau memberi rahmat di atas rahmat, seperti ombak yang tak henti datang. Ajari aku berhenti menghitung kekurangan, dan mulai menghitung kemurahan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →