Selasa, 11 Maret 2031
Beban yang Tak Disentuh
Siapa saja yang pernah memanggul beban di pasar atau di pelabuhan tahu bedanya orang yang ikut mengangkat dan orang yang hanya menunjuk. Yang menunjuk suaranya paling keras. 'Angkat yang itu, geser yang ini.' Tetapi pundaknya bersih, tangannya tidak pernah lecet.
Yesus menegur para pemimpin agama dengan gambar seperti itu. 'Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.' Mereka pandai menyusun aturan untuk orang lain, tetapi jari mereka sendiri enggan ikut menanggung.
Yang membuat sakit, kata Yesus, semua itu dilakukan 'supaya dilihat orang'. Tempat terhormat dalam perjamuan, kursi depan di rumah ibadat, sapaan Rabi di pasar. Ibadah berubah menjadi panggung.
Lalu datang obatnya, sederhana sekali: 'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.' Ukuran kebesaran dibalik. Yang besar bukan yang menunjuk, melainkan yang ikut memanggul.
Bacaan Pertama sudah memperingatkan lewat Yesaya. Tuhan bosan dengan ibadah yang ramai tetapi tangannya kotor oleh ketidakadilan. 'Belajarlah berbuat baik, belalah hak anak yatim.'
Beban siapa yang bisa kita sentuh, bukan sekadar kita bicarakan, hari ini?
Tuhan, jauhkan aku dari kesalehan yang hanya menunjuk. Beri aku bahu yang mau ikut mengangkat. Amin.