Kamis, 13 Maret 2031
Pintu yang Terlewat
Nabi Yeremia melukiskan dua macam manusia dengan dua macam tumbuhan. Yang mengandalkan kekuatannya sendiri seperti semak bulus di padang gurun, kerontang, tumbuh di tanah asin. Yang mengandalkan Tuhan seperti pohon yang ditanam di tepi air, akarnya menjalar ke sungai, daunnya tetap hijau walau musim kering datang.
Bedanya bukan pada cuaca. Kemarau menimpa keduanya. Bedanya pada di mana akar itu mencari air.
Injil hari ini menaruh gambar itu ke dalam sebuah cerita. Ada orang kaya berjubah ungu, setiap hari berpesta. Di depan pintunya berbaring Lazarus, seorang pengemis penuh borok. Perhatikan, mereka begitu dekat. Hanya sejarak pintu. Orang kaya itu tiap hari pasti melangkahi Lazarus untuk keluar rumah.
Dosanya bukan kekejaman yang menyala. Ia tidak menendang Lazarus. Ia hanya tidak melihatnya. Lazarus sudah menjadi bagian dari pemandangan, seperti pagar, seperti pot bunga. Terbiasa, lalu tak terlihat. Jurang di akhirat itu ternyata sudah digali di dunia, tepat di ambang pintu, oleh mata yang memilih tidak melihat.
Di sekitar kita pun ada 'Lazarus' yang sudah menjadi pemandangan. Penjaga yang tiap hari kita lewati tanpa nama. Tetangga yang kesulitan tetapi terlalu biasa untuk kita perhatikan.
Siapa yang setiap hari kita langkahi di depan pintu tanpa benar-benar melihatnya?
Tuhan, bukalah mataku terhadap orang yang terlalu dekat sampai tak lagi kulihat. Amin.