Senin, 17 Maret 2031
Tujuh Kali di Sungai Keruh
Naaman datang dengan gaya seorang panglima. Kuda, kereta, perak dan emas berpeti-peti. Ia sakit kusta, tetapi ia datang seakan mau membeli kesembuhan. Ia sudah membayangkan bagaimana nabi itu akan menyambutnya: keluar dengan hormat, menggerakkan tangan di atas lukanya, menyebut nama Tuhan dengan khidmat.
Tetapi Elisa bahkan tidak keluar menemuinya. Ia hanya mengirim pesan lewat suruhan: mandilah tujuh kali di Sungai Yordan. Naaman tersinggung. Sungai Yordan itu keruh dan kecil. Di negerinya ada sungai yang jauh lebih jernih. 'Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.'
Yang menyembuhkan Naaman akhirnya bukan kehebatannya, melainkan kesediaannya merendah. Pegawainya yang bijak berkata, 'Seandainya nabi menyuruh perkara yang sukar, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi ini, hanya mandi.' Naaman menurunkan gengsinya, turun ke sungai keruh itu tujuh kali, dan tubuhnya pulih seperti tubuh anak kecil.
Orang Jawa punya nasihat yang pas: aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa. Jangan merasa bisa, tetapi bisalah merasa. Naaman baru sembuh ketika ia berhenti merasa hebat.
Dalam Injil, Yesus mengingatkan bahwa dari sekian banyak penderita kusta di Israel, justru Naaman orang asing itu yang ditahirkan. Rahmat sering datang lewat pintu yang tidak kita sangka, dan menuntut kita membungkuk untuk masuk.
Perintah Tuhan mana yang kita tolak karena terasa terlalu sederhana?
Tuhan, turunkanlah gengsiku sampai aku berani mandi di sungai keruh yang Kautunjuk. Amin.