‹ Semua renungan

Minggu, 16 Maret 2031

Rumah yang Dibangun Tuhan

Ada keinginan yang sangat manusiawi dalam diri Raja Daud. Ia sudah tinggal di istana dari kayu aras, sementara Tabut Perjanjian masih berada di dalam kemah. Ia merasa tidak enak. Maka ia berniat membangun sebuah rumah yang megah bagi Tuhan.

Niat yang mulia. Tetapi jawaban Tuhan mengejutkan. 'Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku?' Lalu Tuhan membalik seluruh rencana itu. Bukan Daud yang akan membangun rumah bagi Tuhan, melainkan Tuhan yang akan membangun 'rumah' bagi Daud, yaitu keturunan dan takhta yang kokoh untuk selama-lamanya.

Perhatikan pembalikan itu. Kita datang kepada Tuhan dengan rencana besar, ingin memberi, ingin membangun sesuatu untuk-Nya. Dan Tuhan berkata dengan lembut, 'Duduklah dulu. Biar Aku yang membangun.' Iman sering dimulai dari titik ini: berhenti membangun sendiri, membiarkan Tuhan bekerja.

Bacaan Kedua membawa kita mundur lebih jauh, ke Abraham. Rasul Paulus menulis kalimat yang mengharukan: 'Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya.' Ia sudah tua, istrinya mandul, dan Tuhan menjanjikan keturunan sebanyak bintang. Menurut hitungan manusia, mustahil. Tetapi Abraham memegang janji itu, dan 'hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran'.

Inilah iman yang sejati. Bukan percaya karena bukti sudah di tangan, melainkan percaya kepada Dia 'yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada'. Iman berdiri justru di tempat yang gelap, ketika belum ada apa-apa untuk dipegang selain janji.

Injil menutup rangkaian ini dengan sebuah nama dalam silsilah. Dari keturunan Daud dan Abraham, akhirnya lahirlah Yesus. Semua janji yang tampak mustahil itu, satu per satu, ditepati. Deretan nama dalam silsilah yang sering kita lewati begitu saja sebenarnya adalah daftar panjang kesetiaan Tuhan, bukti bahwa Ia tidak pernah lupa pada satu pun kata yang pernah Ia ucapkan.

Di masa Prapaskah ini, mungkin kita sedang lelah membangun sesuatu yang tak kunjung jadi. Sebuah keluarga yang retak, sebuah harapan yang tertunda, sebuah doa yang belum dijawab. Firman hari ini mengajak kita berhenti sejenak, dan percaya bahwa ada Tangan lain yang sedang membangun, bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.

Rencana mana yang perlu kita lepaskan agar Tuhan yang membangunnya?

Tuhan, seperti Abraham, ajarilah aku berharap ketika tidak ada lagi dasar untuk berharap. Bangunlah rumah-Mu dalam hidupku, dengan cara dan waktu-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →