‹ Semua renungan

Sabtu, 15 Maret 2031

Bapak yang Berlari

Di kampung, orang tua yang berwibawa tidak berlari. Ia berjalan tenang, menunggu di beranda, membiarkan orang lain yang datang menghampiri. Berlari itu urusan anak-anak, bukan urusan seorang bapak yang dihormati.

Maka ada yang ganjil dalam perumpamaan yang paling terkenal ini. Ketika anak bungsu yang telah memboroskan segalanya itu pulang, 'ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya.' Berarti sang bapak sudah lama menanti, setiap hari menatap ujung jalan. Dan begitu melihat, ia tidak menunggu di beranda. Ia berlari.

Lukas memakai satu kata yang dalam bahasa aslinya, splanchnizomai, menunjuk ke bagian paling dalam perut. 'Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.' Belas kasih yang bukan basa-basi, melainkan yang mengaduk-aduk isi perut sampai kaki ikut berlari.

Bacaan Pertama sudah menyanyikan hal yang sama lewat nabi Mikha. 'Siapakah Allah seperti Engkau, yang mengampuni dosa?' Ia bahkan 'melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut'. Dosa yang dilempar ke laut tidak dipancing kembali. Ia tenggelam untuk selamanya.

Kita sering membayangkan Tuhan sebagai bapak yang berdiri melipat tangan, menunggu kita cukup menyesal. Injil hari ini melukis sebaliknya. Ia bapak yang berlari, yang memeluk sebelum si anak sempat menyelesaikan pidato tobatnya.

Apa yang membuat kita ragu untuk pulang, padahal Ia sudah menanti di ujung jalan?

Tuhan, Engkau berlari mendapatkan aku sebelum aku selesai bicara. Biarlah aku tidak menunda pulang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →