‹ Semua renungan

Rabu, 19 Maret 2031

Tukang Kayu yang Diam

Hari ini Gereja merayakan seorang kudus yang, anehnya, tidak pernah tercatat mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil. Santo Yusuf. Tidak ada satu kalimat pun dari mulutnya yang direkam. Yang kita tahu tentang dia bukan perkataannya, melainkan perbuatannya.

Injil hari ini menggambarkannya dengan hemat. Ketika Yusuf tahu Maria mengandung, ia 'seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum'. Perhatikan, di tengah kebingungan yang paling menyakitkan, hal pertama yang ia pikirkan adalah melindungi nama orang lain. Lalu malaikat datang dalam mimpi, dan reaksinya cukup satu baris: 'Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan.' Tidak berdebat, tidak menawar. Ia bangun, lalu melakukan.

Sebagai tukang kayu, Yusuf pasti terbiasa dengan pekerjaan yang tak banyak bicara. Kayu tidak bisa dibujuk dengan kata-kata. Ia harus diukur, digergaji, dihaluskan, disambung, sabar dan telaten. Barangkali dari bengkelnya itulah Yusuf belajar bahwa ketaatan lebih banyak berupa tangan yang bekerja daripada mulut yang menjelaskan.

Bacaan Kedua menautkan Yusuf dengan Abraham. Paulus memuji Abraham yang 'sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun berharap juga dan percaya'. Yusuf adalah Abraham yang baru. Ia diminta percaya pada sesuatu yang tak masuk akal, yaitu bahwa anak dalam kandungan tunangannya berasal dari Roh Kudus. Dan ia percaya, bukan dengan pidato, melainkan dengan mengambil Maria ke rumahnya.

Bacaan Pertama menjelaskan mengapa semua ini penting. Tuhan berjanji kepada Daud bahwa takhtanya akan kokoh selama-lamanya. Yusuf, 'anak Daud', menjadi jembatan diam yang menyalurkan janji itu kepada Yesus. Tanpa banyak bicara, ia menempatkan Sang Mesias ke dalam garis keturunan Daud. Ia memberi Yesus sebuah nama, sebuah rumah, sebuah keluarga. Lewat kerja tangan yang sunyi itulah rencana besar Allah berjalan, tanpa banyak orang menyadari bahwa keselamatan dunia sedang dititipkan pada seorang tukang kayu yang setia.

Di zaman yang menghargai orang dari seberapa lantang ia bersuara, Yusuf mengajarkan yang sebaliknya. Ada iman yang tidak perlu diumumkan. Ada kasih yang cukup dibuktikan dengan bangun pagi dan mengerjakan tugas hari itu, diam-diam, setia.

Adakah tugas kecil dan diam yang Tuhan percayakan kepada kita, yang selama ini kita tunda karena merasa terlalu sepele?

Santo Yusuf, engkau yang taat tanpa banyak kata, doakanlah kami. Tuhan, ajarilah aku percaya seperti dia: dengan tangan yang bekerja, bukan hanya mulut yang berjanji. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →