Kamis, 20 Maret 2031
Rumah yang Terbelah
Ada satu kalimat Yesus yang terus terbukti benar di segala zaman. 'Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah pasti runtuh.' Kita menyaksikannya di mana-mana. Keluarga yang di dalamnya masing-masing berjalan sendiri, lama-lama roboh, meski dari luar rumahnya masih berdiri.
Yesus mengucapkannya untuk membantah tuduhan aneh. Ia baru saja mengusir setan yang membisukan seseorang, dan orang bisu itu langsung dapat berbicara. Bukannya bersyukur, sebagian orang menuduh Ia mengusir setan dengan kuasa penghulu setan. Yesus menjawab dengan logika sederhana: mana mungkin setan mengusir setan? Kalau Iblis melawan dirinya sendiri, kerajaannya sudah lama runtuh.
Bacaan Pertama menunjukkan akar dari segala keterpecahan itu: telinga yang tertutup. Lewat Yeremia, Tuhan mengeluh, 'Mereka tidak mau mendengarkan, melainkan memperlihatkan belakangnya dan bukan mukanya.' Dari zaman ke zaman Ia mengutus para nabi, tetapi jawabannya sama: tengkuk yang ditegarkan.
Menarik, mukjizat Yesus hari ini justru membuka mulut orang bisu, sesudah Ia lebih dulu ingin membuka telinga yang tuli. Sebab persoalan kita bukan pertama-tama kita tidak bisa bicara, melainkan kita sudah lama tidak mau mendengar.
Yesus menutup dengan garis yang tegas: 'Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku.' Tidak ada wilayah abu-abu.
Di ruang mana dalam hidup kita, telinga sedang tertutup terhadap suara Tuhan?
Tuhan, sembuhkan tuli hatiku sebelum Kaubuka mulutku. Satukan kembali apa yang terpecah dalam diriku. Amin.