Jumat, 21 Maret 2031
Selembut Embun
Embun turun tanpa suara. Tidak seperti hujan yang menggebu, embun datang diam-diam di dini hari, menempel di ujung daun, dan pagi-pagi kita menemukan rumput sudah basah tanpa pernah mendengar bunyinya. Justru embun yang tak bersuara itu yang menjaga tanaman tetap hidup di musim kering.
Nabi Hosea memakai gambar itu untuk kasih Tuhan. 'Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung.' Tuhan tidak selalu bekerja dengan gempa dan guntur. Sering Ia datang selembut embun, memulihkan yang layu tanpa banyak keributan.
Menariknya, sesudah embun itu turun, yang tumbuh adalah kasih. Dan dalam Injil, ketika seorang ahli Taurat bertanya hukum manakah yang paling utama, Yesus menyatukan dua perintah dalam satu tarikan napas. Kasihilah Tuhan dengan segenap hati, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.
Perhatikan, keduanya tidak bisa dipisah. Mengasihi Tuhan yang tak kelihatan dibuktikan dengan mengasihi sesama yang kelihatan. Seperti embun, kasih itu turun dari atas lalu meresap ke tanah di sekitar kita.
Ahli Taurat itu menjawab dengan tepat, dan Yesus berkata, 'Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.' Kalimat yang hangat. Ia tidak berkata 'sudah masuk', tetapi 'tidak jauh'. Selalu ada satu langkah kecil lagi: dari mengerti menjadi melakukan.
Kepada siapa hari ini kasih kita perlu turun selembut embun?
Tuhan, jadilah embun bagi hatiku yang kering, lalu alirkanlah kasih itu kepada sesama di sekitarku. Amin.