Sabtu, 22 Maret 2031
Tanda yang Ditolak
Ada kesombongan yang menyamar sebagai kerendahan hati. Kita bertemu dengannya dalam diri Raja Ahas. Nabi Yesaya, atas nama Tuhan, menawarkan sesuatu yang luar biasa: 'Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu.' Apa saja, dari yang paling dalam sampai yang paling tinggi. Langit terbuka lebar. Tetapi Ahas menjawab dengan nada yang seakan saleh, 'Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN.'
Kedengarannya rendah hati. Padahal itu penolakan. Ahas sudah punya rencananya sendiri, sudah bersekutu dengan kekuatan lain, dan tidak sungguh menginginkan campur tangan Tuhan. Ia menolak tanda bukan karena terlalu hormat, melainkan karena tidak mau hidupnya diubah.
Maka Tuhan memberi tanda itu tanpa diminta. 'Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.' Nama itu sendiri adalah beritanya. Imanuel berarti Allah menyertai kita. Bukan Allah yang jauh di atas, mengawasi dari kejauhan, melainkan Allah yang turun, yang menyertai, yang tinggal bersama.
Injil hari ini menunjukkan bagaimana tanda itu digenapi, dan lewat siapa. Malaikat Gabriel datang kepada Maria dengan tawaran yang jauh lebih besar daripada yang ditolak Ahas. Dan di sinilah dua tokoh itu berhadapan. Ahas, seorang raja, menolak tanda dengan dalih kesalehan. Maria, seorang gadis desa, menerima tanda dengan pertanyaan yang jujur, 'Bagaimana hal itu mungkin terjadi?'
Perhatikan bedanya. Ahas berpura-pura tidak mau mengganggu Tuhan. Maria justru membiarkan hidupnya diganggu sepenuhnya oleh Tuhan. Ahas menjaga rencananya tetap aman. Maria menyerahkan rencananya dan berkata, 'Jadilah padaku menurut perkataanmu.'
Kita sering lebih mirip Ahas daripada Maria. Kita berkata kepada Tuhan, 'Tidak usah repot-repot, aku bisa mengurus sendiri,' dan kita menyebutnya iman yang mandiri. Padahal itu cara halus untuk menutup pintu, supaya hidup kita tidak perlu berubah.
Nama Imanuel itu kini bukan lagi ramalan yang menggantung di udara. Dalam rahim Maria, Allah sungguh menjadi 'beserta kita', bukan sebagai penonton yang mengawasi dari langit, melainkan sebagai bayi yang kelak berbagi napas, lapar, dan lelah dengan kita. Tanda yang ditolak Ahas justru menjelma kabar yang paling menghibur: kita tidak pernah sungguh sendirian.
Di titik mana kita sedang berkata 'tidak usah' kepada Tuhan, sambil menyebutnya kerendahan hati?
Tuhan Imanuel, Engkau menyertai kami bahkan ketika kami menolak. Beri aku hati Maria yang berani berkata 'jadilah', bukan hati Ahas yang berkata 'tidak usah'. Amin.