Senin, 24 Maret 2031
Percaya Sebelum Melihat
Seorang ayah dengan anak yang hampir mati tidak punya waktu untuk gengsi. Pegawai istana ini, orang terpandang di Kapernaum, rela menempuh perjalanan jauh ke Kana hanya untuk memohon kepada Yesus, 'Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.'
Ia punya satu bayangan tentang bagaimana mukjizat harus terjadi: Yesus datang, masuk ke rumah, menjamah si anak. Tetapi Yesus tidak beranjak. Ia hanya berkata, 'Pergilah, anakmu hidup.' Tidak ada sentuhan, tidak ada kunjungan. Hanya sepatah kata dan jarak yang jauh.
Di sinilah iman diuji. Sang ayah harus pulang berjam-jam lamanya tanpa bukti apa pun di tangan, hanya berpegang pada satu kalimat. Dan Injil mencatat, 'Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus, lalu pergi.' Ia berjalan pulang dengan modal sabda, bukan pemandangan.
Baru di tengah jalan hambanya datang mengabarkan bahwa si anak sembuh, tepat pada jam Yesus berkata. Percaya lebih dulu, melihat kemudian. Bukan sebaliknya.
Bacaan Pertama menyanyikan janji yang sama dari jauh. Tuhan berkata, 'Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru,' sebuah dunia tanpa tangisan. Kita belum melihatnya. Tetapi kita diajak berjalan pulang sambil memegang janji itu, seperti ayah tadi.
Sabda mana yang hari ini harus kita percayai meski buktinya belum tampak?
Tuhan, aku sering menuntut melihat dulu baru percaya. Beri aku iman ayah itu, yang pulang hanya berbekal perkataan-Mu. Amin.