Selasa, 25 Maret 2031
Sepatah 'Ya' yang Mengubah Segala
Sembilan bulan sebelum Natal, hari ini, Gereja merayakan saat ketika semuanya dimulai. Bukan di istana, bukan di Bait Allah, melainkan di sebuah rumah sederhana di Nazaret, di hadapan seorang gadis biasa. Kabar Sukacita. Peristiwa terbesar dalam sejarah keselamatan terjadi tanpa saksi, tanpa keramaian, hanya seorang malaikat dan seorang perawan.
Malaikat Gabriel menyampaikan berita yang membuat Maria terkejut. Ia akan mengandung Anak Allah Yang Mahatinggi. Maria tidak langsung menerima begitu saja. Ia bertanya, 'Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?' Pertanyaannya jujur, bukan penolakan. Iman sejati boleh bertanya, asal tetap terbuka pada jawaban.
Lalu datang kalimat yang menjadi poros seluruh cerita. 'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.' Sepatah 'ya' yang sederhana. Tetapi pada kata itu tergantung seluruh keselamatan dunia. Bayangkan seluruh langit menahan napas menunggu jawaban seorang gadis desa. Dan ketika 'ya' itu terucap, Sabda pun menjadi daging.
Bacaan Kedua membuka apa yang terjadi di balik layar. Penulis surat Ibrani menaruh sebuah kalimat di mulut Kristus saat Ia masuk ke dunia: 'Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.' Perhatikan, sementara Maria berkata 'ya', Sang Putra juga berkata 'ya': 'Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.' Dua 'ya' bertemu. Yang di sorga dan yang di bumi. Dan dari pertemuan dua kesediaan itu, tubuh Yesus mulai terbentuk dalam rahim Maria.
Inilah yang membuat hari ini begitu dalam. Keselamatan tidak dipaksakan dari atas. Allah menunggu sebuah kerelaan manusia. Ia tidak masuk ke dunia dengan mendobrak pintu, melainkan dengan mengetuk dan menanti dibukakan.
Kita mudah mengagumi Maria, tetapi lebih sulit menirunya. Sebab 'ya' kepada Tuhan selalu berarti melepaskan kendali atas rencana kita sendiri. Maria tidak tahu seluruh jalan di depannya. Ia hanya tahu satu hal: bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dan itu cukup untuk berkata 'ya'.
Setiap hari kita pun ditawari kabar-kabar kecil dari Tuhan. Sebuah dorongan untuk mengampuni, untuk menolong, untuk melepaskan. Dan setiap kali, kita berdiri di tempat Maria berdiri, dengan sepatah kata di ujung lidah.
Kepada tawaran Tuhan yang mana hari ini kita takut berkata 'ya'?
Bunda Maria, ajarilah aku berkata 'ya' seperti engkau. Tuhan, jadilah dalam diriku menurut perkataan-Mu, apa pun harganya. Amin.