Jumat, 28 Maret 2031
Kehadiran yang Menegur
Ada orang yang kehadirannya saja sudah membuat kita gelisah. Bukan karena ia menegur, bukan karena ia menghakimi, melainkan justru karena ia baik. Kebaikannya seperti cermin yang memperlihatkan cela kita sendiri.
Bacaan Pertama dari Kitab Kebijaksanaan menangkap perasaan itu dengan tajam. Orang-orang fasik berkata tentang orang benar, 'Hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita.' Mengapa berat? Karena, kata mereka, 'hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain'. Ia tidak berbuat apa-apa kepada mereka. Ia hanya hidup lurus, dan itu saja sudah terasa seperti tuduhan.
Maka mereka merancang untuk menyingkirkannya. 'Mari kita mencobainya dengan aniaya dan siksa.' Bukan karena orang benar itu jahat, melainkan karena ia mengganggu kenyamanan mereka dalam berbuat salah.
Bacaan ini terasa seperti nubuat tentang Yesus sendiri. Dalam Injil hari ini, orang-orang di Yerusalem berusaha menangkap-Nya. Kehadiran-Nya yang suci membuat mereka tidak nyaman. 'Saat-Nya belum tiba,' kata Injil, tetapi rencana untuk menyingkirkan-Nya sudah lama mendidih.
Pertanyaan yang lebih menusuk justru bagi kita. Ketika bertemu orang yang lebih jujur, lebih murah hati, lebih setia daripada kita, apa reaksi pertama kita? Terinspirasi, atau diam-diam ingin mencari cela agar merasa lega? Kebaikan orang lain seharusnya menjadi undangan, bukan ancaman.
Siapa orang baik yang kehadirannya diam-diam membuat kita iri, bukan terinspirasi?
Tuhan, ketika kebaikan orang lain menegurku, jangan biarkan aku ingin menjatuhkannya. Biarlah itu menarikku untuk ikut menjadi baik. Amin.