Kamis, 27 Maret 2031
Berdiri di Tengah
Kemarin kita mendengar Yesus berbicara tentang bagaimana Bapa dan Anak bekerja seia sekata, sampai orang-orang tersinggung karena Ia menyamakan diri dengan Allah. Hari ini pembicaraan itu berlanjut ke soal kesaksian: siapa sebenarnya yang membenarkan Yesus?
Tetapi mari kita berhenti sejenak pada Bacaan Pertama, yang menampilkan salah satu adegan paling mengharukan dalam Perjanjian Lama. Bangsa Israel baru saja membuat anak lembu emas. Murka Tuhan menyala. Dan Musa, alih-alih ikut menyalahkan, justru berdiri di tengah. Ia membela bangsa yang jelas bersalah itu.
Perhatikan keberaniannya. 'Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu?' Ia mengingatkan Tuhan akan janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Israel. Ia seakan menahan tangan Tuhan yang hendak menghukum. Dan Kitab Suci mencatat kalimat yang menakjubkan, 'Menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya.'
Musa menjadi gambar seorang pengantara. Ia berdiri di antara Allah yang murka dan umat yang berdosa, memikul keduanya sekaligus. Ia tidak melarikan diri dari bangsanya, meski bangsa itu memuakkan.
Di sinilah Musa menunjuk kepada Yesus. Sebab Yesus adalah Pengantara yang sejati, yang berdiri di tengah bukan sekadar dengan kata, melainkan dengan tubuh-Nya sendiri di kayu salib. Dalam Injil Ia berkata, Musa sendiri menulis tentang Dia.
Kita pun dipanggil sesekali berdiri di tengah, membela orang yang sedang disalahkan semua orang, menahan penghakiman yang sudah siap dijatuhkan.
Untuk siapa hari ini kita bisa berdiri di tengah, bukan ikut menghakimi?
Tuhan, jadikan aku seperti Musa, yang berani membela, bukan yang cepat menyalahkan. Amin.