‹ Semua renungan

Kamis, 17 April 2031

Yang Bangkit Itu Makan Ikan

Bau ikan goreng punya kuasa yang aneh. Ia menembus dinding, mengundang lapar, memanggil orang ke meja. Tidak ada yang lebih membumi daripada aroma masakan dari dapur. Ia berbicara tentang rumah, tentang keluarga, tentang tubuh yang sungguh perlu makan. Justru dengan hal sesederhana itulah Yesus meyakinkan murid-murid-Nya bahwa Ia sungguh bangkit.

Ketika Yesus tiba-tiba berdiri di tengah mereka, para murid terkejut dan menyangka melihat hantu. Wajar. Orang yang mereka lihat mati kini berdiri hidup. Maka Yesus melakukan sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh hantu. Ia berkata, 'Adakah padamu makanan di sini?' Mereka memberikan sepotong ikan goreng, dan Ia memakannya di depan mata mereka.

Betapa mengharukan. Raja kemuliaan yang baru mengalahkan maut, dan hal pertama yang Ia minta adalah makanan. Ia tidak muncul sebagai roh yang melayang di awan, jauh dan tak tersentuh. Ia mengunyah ikan. Kebangkitan bukan berarti Yesus meninggalkan tubuh dan dunia ini. Justru sebaliknya, tubuh yang bangkit itu nyata, bisa diraba, bahkan bisa lapar.

Ini menghibur kita yang kadang membayangkan keselamatan sebagai sesuatu yang melulu rohani, terpisah dari tubuh dan hidup sehari-hari. Iman Kristen tidak begitu. Yang diselamatkan bukan hanya jiwa kita, melainkan seluruh diri kita, termasuk tubuh yang makan, bekerja, dan lelah. Dapur, meja makan, dan tubuh kita bukan hal remeh di mata Allah.

Sesudah makan, Yesus membuka pikiran mereka supaya mengerti Kitab Suci. Dalam bacaan pertama, Petrus melakukan hal serupa di depan orang banyak, menerangkan bahwa semua yang terjadi telah dinubuatkan para nabi. Dari meja makan yang sederhana, murid-murid diutus menjadi saksi ke seluruh bangsa.

Ada juga penghiburan lain di sini. Murid-murid yang ketakutan dan menyangka melihat hantu itu tidak dimarahi Yesus. Ia justru meladeni keraguan mereka dengan sabar, menunjukkan tangan dan kaki-Nya, meminta makanan, membiarkan mereka memandang. Tuhan tidak menuntut iman yang langsung sempurna. Ia rela membuktikan diri, pelan-pelan, sampai keraguan mereka berubah menjadi sukacita.

Barangkali di situlah kita sering keliru. Kita mencari Tuhan hanya di tempat-tempat yang megah, dan lupa bahwa Ia berkenan hadir di meja makan, di dapur, di keseharian tubuh kita yang paling biasa.

Sudahkah kita mengundang Tuhan yang bangkit itu masuk ke meja makan dan keseharian kita yang paling sederhana?

Tuhan, Engkau yang makan ikan bersama murid-murid-Mu, hadirlah di meja dan keseharianku yang paling biasa. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →