‹ Semua renungan

Jumat, 18 April 2031

Kembali ke Perahu

Sesudah peristiwa besar, hidup selalu menuntut kita kembali bekerja. Pesta usai, tamu pulang, dan piring tetap harus dicuci. Begitu pula para murid. Sesudah menyaksikan Guru mereka bangkit, Petrus berkata dengan sederhana, 'Aku pergi menangkap ikan.' Ia kembali ke perahu, ke pekerjaan lamanya, ke jala dan air asin. Hidup harus berjalan.

Tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Semalaman bekerja, jala tetap kosong. Siapa pun yang pernah bekerja keras tanpa hasil tahu betapa lelah dan hampanya perasaan itu. Bukan hanya tangan yang capek, tetapi hati yang ikut kecil. Sudah berusaha, tetapi tak ada yang bisa dibawa pulang.

Ketika hari mulai siang, seseorang berdiri di pantai dan bertanya, 'Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?' Mereka menjawab, 'Tidak ada.' Lalu orang itu menyuruh menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Aneh, hanya beralih sedikit, ke sisi yang lain dari perahu yang sama. Tetapi ketika mereka menurutinya, jala mereka penuh sampai hampir tak tertarik. Barulah mereka sadar, 'Itu Tuhan.'

Ada pelajaran yang lembut di sini. Tuhan yang bangkit menjumpai murid-murid-Nya bukan di tempat yang megah, melainkan di tempat kerja mereka, di pagi hari yang biasa, sesudah malam yang gagal. Ia tidak menyuruh mereka berhenti melaut. Ia hanya menunjukkan bahwa hasil sejati datang ketika mereka bekerja menurut sabda-Nya, bukan hanya menurut kekuatan sendiri.

Dalam bacaan pertama, Petrus yang dahulu penakut kini berdiri di depan Mahkamah dan berkata bahwa Yesus adalah batu yang dibuang tukang-tukang bangunan, namun telah menjadi batu penjuru. Batu yang ditolak menjadi dasar. Malam yang kosong menjadi jala yang penuh. Tuhan memang suka membalikkan keadaan di pagi hari.

Ada satu detail yang hangat. Sesampai di darat, mereka mendapati Yesus sudah menyiapkan api arang dengan ikan dan roti di atasnya. Tuhan yang menyuruh mereka menebarkan jala, ternyata sudah lebih dulu menyediakan sarapan. Ia tidak hanya memberi hasil tangkapan, Ia sendiri yang memasak dan mengundang, marilah dan sarapanlah. Betapa lembut Tuhan yang bangkit itu.

Kita pun punya malam-malam kerja yang terasa sia-sia. Usaha yang tak berbuah, doa yang seakan tak terjawab. Injil hari ini mengajak kita bertahan sampai pagi, dan mendengarkan suara yang menyuruh menebarkan jala sekali lagi.

Di pekerjaan kita yang terasa sia-sia, sudahkah kita bertanya ke arah mana Tuhan menyuruh menebarkan jala?

Tuhan, sesudah malam-malam kerjaku yang hampa, ajarilah aku menebarkan jala sekali lagi menurut sabda-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →