Minggu, 20 April 2031
Luka yang Tidak Hilang
Ada bekas luka yang tetap tinggal di tubuh kita seumur hidup. Sebuah parut di lutut dari jatuh waktu kecil, bekas operasi, tanda dari kecelakaan lama. Luka itu sudah sembuh, tetapi jejaknya tidak hilang. Anehnya, kita jarang malu pada parut-parut itu. Kadang justru kita menyimpannya sebagai kenangan, tanda bahwa kita pernah melewati sesuatu dan selamat.
Ketika Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada murid-murid, hal pertama yang Ia tunjukkan adalah luka-luka-Nya. Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Ia sudah bangkit mulia, mengalahkan maut, tetapi Ia tidak menghapus bekas paku dan bekas tombak itu. Tubuh kebangkitan-Nya tetap membawa parut penyaliban. Seolah luka itu bukan aib yang harus disembunyikan, melainkan tanda kasih yang justru diperlihatkan.
Delapan hari kemudian, Yesus datang khusus untuk Tomas, yang tidak mau percaya sebelum mencucukkan jarinya ke bekas paku. Yesus tidak memarahinya. Ia justru menawarkan luka-Nya, 'Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku.' Inilah wajah kerahiman yang kita rayakan hari ini. Belas kasih yang tidak menuntut kita sempurna dulu, melainkan menjangkau justru ketika kita ragu. Kerahiman yang berani memperlihatkan lukanya sendiri kepada orang yang meragukannya.
Minggu lalu kita mendengar murid yang lain masuk ke kubur, melihatnya, lalu percaya, walau belum sepenuhnya mengerti. Hari ini Tomas menempuh jalan yang lebih panjang menuju percaya, lewat luka yang bisa diraba. Yesus menutupnya dengan berkat bagi kita yang datang jauh sesudahnya, 'Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.'
Bacaan kedua memperlihatkan Yesus yang sama dalam kemuliaan, berkata kepada Yohanes, 'Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya, dan Aku memegang segala kunci maut.' Ia yang terluka kini memegang kunci maut. Justru luka-luka itulah yang membuka pintu kerahiman bagi kita.
Kita sering ingin menyembunyikan luka dan kegagalan kita, merasa harus tampak utuh dulu baru layak datang kepada Tuhan. Tetapi Kerahiman Ilahi bekerja sebaliknya. Yesus memperlihatkan luka-Nya supaya kita berani memperlihatkan luka kita. Di tangan-Nya, parut tidak lagi menjadi tanda kekalahan, melainkan tanda bahwa maut sudah dilewati.
Dalam bacaan pertama, belas kasih itu bahkan meluap sampai ke bayangan Petrus. Orang-orang sakit dibaringkan di pinggir jalan, berharap sekurang-kurangnya bayangannya melintas dan menyembuhkan mereka. Kerahiman yang lahir dari luka Kristus ternyata mengalir jauh melampaui yang bisa kita ukur.
Luka mana dalam hidup kita yang masih kita sembunyikan, padahal Tuhan justru ingin menjamahnya dengan belas kasih?
Yesus, Engkau yang bangkit dengan luka-luka-Mu, ajarilah aku membawa luka dan raguku kepada-Mu, dan percaya pada kerahiman-Mu. Amin.