‹ Semua renungan

Senin, 21 April 2031

Melihat Angin dari Daun

Kita tidak pernah benar-benar melihat angin. Yang kita lihat hanyalah akibatnya. Daun yang bergoyang, jemuran yang berkibar, debu yang berputar di halaman. Angin sendiri tak kasat mata, tetapi tak seorang pun meragukan keberadaannya. Kita mengenalnya bukan dari rupanya, melainkan dari kerjanya.

Yesus memakai gambar itu untuk Nikodemus, yang datang menemui-Nya pada waktu malam. 'Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.' Roh Kudus bekerja seperti angin. Kita tidak bisa mengatur-Nya, tidak bisa memetakan jalur-Nya. Tetapi kita bisa melihat buahnya dalam hidup orang.

Nikodemus, seorang terpelajar, ingin semuanya masuk akal. 'Bagaimana mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua?' Ia mencoba mengukur karya Allah dengan penggaris logika. Tetapi kelahiran baru bukan urusan yang bisa dihitung, melainkan urusan yang harus diterima, seperti orang membuka jendela dan membiarkan angin masuk.

Dalam bacaan pertama, kita melihat angin itu bekerja. Jemaat yang berdoa tiba-tiba merasakan tempat mereka bergoyang, dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu memberitakan firman dengan berani. Tak seorang pun mengatur kapan itu terjadi. Roh datang, dan keberanian pun tumbuh.

Adakah kita masih ingin mengendalikan Tuhan dengan logika kita sendiri, dan bukan membuka jendela hati agar Roh-Nya bebas bertiup?

Tuhan, bukalah jendela hatiku, dan biarlah Roh-Mu bertiup ke mana Ia mau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →