Kamis, 1 Mei 2031
Teman Seperjalanan
Di bengkel kayu, ilmu jarang diajarkan lewat buku. Anak magang belajar dengan duduk di samping tukang yang sabar. Melihat. Bertanya. Mencoba. Begitu pula Yesus belajar bekerja: di samping Yusuf, yang hari ini kita kenang sebagai pekerja.
Bacaan pertama hari ini juga tentang duduk di samping. Seorang pembesar Etiopia membaca kitab Yesaya di keretanya. Ia orang terpelajar, kepala perbendaharaan ratu. Tetapi ketika Filipus bertanya, "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?", jawabannya jujur sekali: bagaimana aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing?
Pintar saja ternyata tidak cukup. Kitab Suci bukan teka-teki yang dipecahkan sendirian. Ia dimengerti sambil berjalan, dengan seseorang yang mau naik dan duduk di samping kita.
Siapa Filipus dalam hidup kita? Mungkin katekis kampung. Mungkin ibu yang mengajari doa pertama. Dan sebaliknya: kepada siapa kita mau naik dan duduk mendampingi?
Iman memang pemberian Allah. Ia sendiri yang menarik orang datang kepada-Nya, kata Injil hari ini. Tetapi hampir selalu, Allah mengirimkan tarikan itu lewat teman seperjalanan.
Tuhan, utuslah aku duduk di samping mereka yang mencari-Mu, dan kirimkanlah pembimbing bagi jalanku sendiri. Amin.