‹ Semua renungan

Minggu, 11 Mei 2031

Diundi tapi Dipilih

Dalam arisan kampung, nama yang keluar dari gelas undian selalu disambut tawa dan tepuk tangan. Tidak ada yang protes, sebab semua tahu: undian itu adil justru karena tidak ada yang mengatur.

Cara yang mirip dipakai para rasul dalam bacaan pertama. Sesudah Yudas pergi, jabatannya harus diisi. Dua nama diusulkan: Yusuf Barsabas dan Matias. Lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih," dan membuang undi. Undi jatuh pada Matias.

Sepintas ini seperti untung-untungan. Tetapi perhatikan urutannya: doa dulu, undi kemudian. Bagi para rasul, undi bukan dadu nasib, melainkan cara menyerahkan keputusan kepada Dia yang mengenal hati. Matias tidak melamar, tidak berkampanye. Ia dipilih.

Injil hari ini menyebut hal yang sama dengan kalimat yang lebih dalam: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." Iman kita sering terasa seperti keputusan kita: kita yang rajin ke gereja, kita yang bertahan berdoa. Yesus membalik arah panahnya. Semua itu jawaban, bukan awal. Awalnya selalu Dia.

Dan untuk apa dipilih? Di sinilah kejutan terbesar Injil hari ini. "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba. Aku menyebut kamu sahabat." Hamba bekerja tanpa tahu isi hati tuannya. Sahabat diberi tahu segalanya. Yesus membuka isi hati-Nya kepada kita: segala sesuatu yang Kudengar dari Bapa-Ku telah Kuberitahukan kepadamu.

Persahabatan macam apa yang berani sejauh itu? Persahabatan yang diukur dengan nyawa: tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kita terbiasa menilai persahabatan dari kecocokan. Yesus menilainya dari pengorbanan.

Maka perintah-Nya pun bukan daftar panjang. Satu saja: kasihilah seorang akan yang lain, seperti Aku telah mengasihi kamu. Kata "seperti" itulah yang membuat kita gemetar. Mengasihi sekadarnya, kita bisa. Mengasihi seperti Dia, sampai memberi diri, hanya mungkin kalau kita tinggal di dalam kasih-Nya.

Matias mengawali hari itu sebagai satu dari seratus dua puluh orang biasa. Ia mengakhirinya sebagai rasul. Kita mengawali hidup sebagai hamba. Yesus mengakhirinya dengan menyebut kita sahabat. Sisa hidup kita adalah belajar pantas menyandang sebutan itu.

Yesus, Sahabatku, Engkau memilih aku lebih dulu. Ajarilah aku mengasihi seperti Engkau, sampai berani memberi diri. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →