Sabtu, 31 Mei 2031
Allah yang Bernyanyi
Kita terbiasa membayangkan manusia bernyanyi bagi Allah. Koor berlatih berminggu-minggu, madah dinaikkan setiap hari Minggu. Tetapi nabi Zefanya, dalam bacaan pertama hari ini, membalik gambar itu: "Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai." Allah yang bersorak karena kita. Pernahkah kita membayangkannya?
Seperti ayah yang menggendong anaknya sambil bersenandung, begitulah Allah digambarkan memandang umat-Nya. Bukan hakim yang mengawasi dengan alis berkerut, melainkan kekasih yang bergirang.
Pada pesta Maria mengunjungi Elisabet ini, sukacita itu berantai. Allah bersukacita atas Maria. Maria mengandung Sang Sukacita dan membawa-Nya mendaki pegunungan. Salamnya membuat bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan. Lalu Maria sendiri meluap dalam nyanyian: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku."
Sukacita sejati memang tidak bisa disimpan sendirian. Ia menular lewat kunjungan, lewat salam, lewat nyanyian.
Di penghujung bulan Maria ini, mari pulang membawa satu keyakinan: kita bukan beban yang ditanggung Allah dengan terpaksa. Kita adalah alasan Ia bersorak. Hidup yang tahu dirinya dicintai seperti itu akan ikut bernyanyi.
Allah Juruselamatku, jiwaku memuliakan Engkau. Jadikanlah hidupku nyanyian sukacita-Mu. Amin.