Minggu, 1 Juni 2031
Diembusi
Ada satu benda yang tidak pernah kita lihat, tetapi setiap detik kita percayai: udara. Kita tidak memandangnya, kita menghirupnya. Bayi yang baru lahir tidak diajari cara bernapas; ia hanya menangis, dan paru-parunya langsung tahu apa yang harus dilakukan. Napas adalah pemberian yang datang sebelum kita sempat memintanya.
Hari Raya Pentakosta berbicara tentang napas. Dalam Injil, Yesus yang bangkit tidak menurunkan petir. Ia hanya mengembusi murid-murid-Nya dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Kata Roh dalam bahasa aslinya, ruah, memang berarti angin, embusan, napas. Allah yang dahulu menghembuskan napas ke hidung manusia dari tanah liat, kini menghembuskan napas baru ke dalam murid yang ketakutan di balik pintu terkunci.
Di Yerusalem, napas itu jadi suara. Orang Partia, Media, Elam, sampai orang Arab, semuanya mendengar orang Galilea berbicara dalam bahasa ibu mereka. Menariknya, Roh tidak menyeragamkan bahasa. Ia tidak memaksa semua orang berbicara satu logat. Ia justru membuat satu kabar terdengar dalam banyak lidah. Kesatuan yang dikerjakan Roh bukan kesatuan yang menghapus perbedaan, melainkan yang merangkulnya.
Paulus menjelaskan hal yang sama dengan gambar tubuh. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Tangan tidak perlu menjadi mata untuk disebut berguna. Justru karena berbeda-beda, tubuh bisa bekerja. Gereja bukan pabrik yang mencetak orang seragam. Ia tubuh, tempat setiap anggota diberi minum dari satu sumber.
Lalu untuk apa napas itu diberikan? Yesus menyambung, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu.” Roh bukan hadiah untuk disimpan sendiri di kamar doa. Ia bekal keberangkatan. Dan tugas pertama yang disebut Yesus mengejutkan: mengampuni. Rupanya tanda paling nyata bahwa seseorang penuh Roh bukanlah bisa berbahasa aneh, melainkan berani melepaskan orang dari kesalahannya.
Angin memang tak bisa diperintah. Kita tidak tahu dari mana ia datang dan ke mana ia pergi; kita hanya merasakan embusannya dan melihat daun bergoyang. Begitu pula Roh. Ia tidak bisa kita kurung dalam aturan, tidak bisa kita pesan sesuai selera. Yang bisa kita lakukan hanyalah membuka jendela hati, lalu membiarkan diri digerakkan ke arah yang sering tak kita duga.
Hari ini, adakah pintu hati yang masih kita kunci karena takut? Biarkanlah Ia masuk dan mengembusinya.
Roh Kudus, embusilah aku yang gentar ini, dan utuslah aku membawa damai serta pengampunan. Amin.