Jumat, 6 Juni 2031
Yang Menyamar di Meja Kita
Ada obat-obat yang tampak terlalu sederhana untuk sebuah penyakit besar. Seorang nenek mengoleskan air kunyit ke luka; seorang ibu meniupkan doa ke dahi anak yang demam. Kita yang terbiasa dengan resep berlembar-lembar mudah meremehkannya. Tetapi Kitab Tobit hari ini justru menaruh mukjizat pada benda yang paling remeh: empedu seekor ikan.
Tobia pulang membawa empedu itu di tangan. Ayahnya sudah bertahun-tahun buta karena kecelakaan konyol, tahi burung yang jatuh ke matanya. Bertahun-tahun ia menanggung gelap dan ejekan. Kini anaknya menyapukan obat sederhana itu, mengelupas selaput dari matanya, dan hal pertama yang dilihat orang tua itu adalah wajah anaknya. “Aku melihat engkau, anakku,” serunya sambil menangis.
Yang menarik, sepanjang perjalanan, penyembuh sejati berjalan menyamar. Rafael, malaikat Allah, menemani Tobia sebagai teman biasa bernama Azarya. Keluarga itu tidak tahu bahwa langit sedang berjalan di samping mereka. Baru belakangan tabir dibuka. Betapa sering Allah bekerja begitu: lewat teman seperjalanan yang tampak biasa, lewat obat murah, lewat peristiwa yang kita kira kebetulan.
Dalam Injil, Yesus melontarkan teka-teki. Bagaimana Mesias bisa disebut anak Daud, padahal Daud sendiri memanggil-Nya Tuan? Ia sedang mengisyaratkan bahwa Mesias jauh lebih besar daripada yang diduga orang. Sama seperti keluarga Tobit yang tidak mengenali malaikat di meja makan mereka, orang banyak pun tidak sepenuhnya menangkap siapa yang sedang berdiri di hadapan mereka.
Mungkin di situlah letak imannya. Percaya bahwa Allah hadir bahkan ketika Ia menyamar sebagai yang biasa. Bahwa penyembuhan bisa datang lewat tangan yang tak kita sangka. Bahwa Dia yang berjalan di samping kita hari ini, dalam wajah tetangga, dalam roti Ekaristi, dalam peristiwa sederhana, jauh lebih besar dari yang bisa kita namai.
Ada juga pelajaran tentang kesabaran di sini. Tobit menunggu bertahun-tahun dalam gelap sebelum empedu ikan itu tiba di tangan anaknya. Allah tidak selalu bergegas menurut jam kita. Kadang penyembuhan datang di ujung penantian yang panjang, lewat pintu yang paling tak terduga, pada saat kita nyaris berhenti berharap.
Tobit tercengang ketika akhirnya bisa berjalan tanpa dituntun, memuji Allah di depan seluruh kota. Barangkali sukacita terbesar bukanlah melihat kembali, melainkan menyadari siapa yang selama ini menuntun dalam gelap.
Tuhan, bukalah mataku untuk mengenali-Mu dalam yang sederhana, dan tuntunlah aku bahkan ketika aku tak menyadari kehadiran-Mu. Amin.