Selasa, 10 Juni 2031
Larut dan Menyala
Di dapur, garam adalah bumbu yang tahu diri. Ia tidak pernah minta diperhatikan. Tidak ada orang memuji, “Wah, asinnya pas sekali.” Kalau garam bekerja dengan baik, yang dipuji justru masakannya. Garam melebur, lalu menghilang, dan justru di situlah gunanya.
Yesus memakai gambar itu untuk murid-murid-Nya. “Kamu adalah garam dunia.” Bukan hiasan dunia, bukan tontonan dunia, melainkan garam, yang tugasnya larut dan memberi rasa dari dalam. Lalu Ia menambahkan gambar kedua yang tampak berlawanan: “Kamu adalah terang dunia,” yang justru harus kelihatan, ditaruh di atas kaki dian, bukan di bawah gantang.
Garam menyembunyikan diri, terang menampakkan diri. Bukankah itu bertentangan? Tidak. Keduanya sama-sama tidak hidup untuk dirinya sendiri. Garam larut demi rasa, terang menyala demi orang lain melihat jalan. Orang Jawa punya ungkapan yang pas: urip iku urup, hidup itu menyala, menyala untuk menerangi sekeliling.
Dalam bacaan pertama, Paulus mengingatkan bahwa di dalam Kristus tidak ada “ya” dan “tidak” sekaligus. Di dalam Dia hanya ada “ya”. Hidup orang beriman mestinya sejelas itu, tidak mendua, tidak tawar. Garam yang menjadi tawar, kata Yesus, tidak ada lagi gunanya.
Apakah kehadiran kita menambah rasa dan terang bagi rumah, tempat kerja, kampung kita? Atau kita sudah menjadi garam yang lupa asinnya?
Tuhan, jadikan aku garam yang rela larut dan terang yang berani menyala, demi rasa dan cahaya bagi sekelilingku. Amin.