Minggu, 15 Juni 2031
Buli-buli yang Dipecahkan
Minggu lalu kita berdiri bersama Yesus di gerbang Nain, menyaksikan hati-Nya tergerak melihat seorang janda. Minggu ini kita masuk ke sebuah rumah, ke meja makan seorang Farisi bernama Simon, dan menyaksikan hati yang lain terbuka: hati seorang perempuan yang dikenal seluruh kota sebagai pendosa.
Ia datang tanpa diundang, membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Tanpa banyak kata, ia menangis di kaki Yesus, membasahi kaki itu dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya. Bagi tamu-tamu terhormat, pemandangan itu memalukan. Bagi Yesus, itu ibadah yang paling tulus di ruangan itu.
Simon menghakimi dalam hati: kalau Yesus sungguh nabi, tentu Ia tahu perempuan macam apa yang menyentuh-Nya. Dan Yesus memang tahu. Justru karena tahu, Ia berkata kalimat yang membalik seluruh penilaian: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.” Lalu Ia menjelaskannya dengan hitungan sederhana tentang dua orang yang dihapus utangnya, yang lima ratus dinar dan yang lima puluh. Siapa yang lebih mengasihi? Tentu yang lebih banyak diampuni.
Di sinilah bacaan-bacaan bertemu. Raja Daud dalam bacaan pertama juga seorang yang diampuni besar. Setelah dosanya ditelanjangi Nabi Natan, ia tidak membela diri; ia mengaku, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan,” dan mendengar pengampunan. Paulus pun bersaksi, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Ketiganya orang yang tahu betul rasanya utang besar yang dihapus.
Hari ini Gereja merayakan Tubuh dan Darah Kristus. Ekaristi bukan upah bagi yang merasa suci, melainkan meja bagi yang tahu dirinya banyak diampuni. Perempuan itu memecahkan buli-bulinya yang mahal tanpa perhitungan, karena kasih memang tidak berhitung ketika sudah menerima terlalu banyak. Kristus melakukan hal yang persis sama bagi kita: memecahkan diri-Nya, menuangkan darah-Nya, tanpa menahan sedikit pun. Setiap kali kita maju menyambut komuni, kita sebenarnya sedang mengulang langkah perempuan itu: datang apa adanya, dengan air mata dan kekurangan, kepada Dia yang tak pernah mengusir orang berdosa yang mendekat dengan kasih.
Pertanyaan yang tinggal bukan seberapa layak kita datang ke meja itu, melainkan seberapa dalam kita sadar telah diampuni. Sebab orang yang merasa sedikit berutang, kata Yesus, sedikit juga ia berbuat kasih.
Tuhan Yesus, yang memecahkan diri-Mu bagiku di meja ini, sadarkanlah aku betapa banyak aku telah Kauampuni, supaya aku pun banyak mengasihi. Amin.