Senin, 16 Juni 2031
Kata Nanti
Kita punya kata sakti untuk menunda: nanti. Nanti kalau sudah sempat. Nanti kalau anak sudah besar. Nanti kalau hati sudah siap. Sebagian besar niat baik mati bukan karena ditolak, melainkan karena ditunda sampai lupa.
Paulus seakan tak sabar dengan kata itu. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” Bukan besok, bukan nanti. Hari ini. Rahmat Allah punya sifat yang mudah kita lupakan: ia ditawarkan dalam bentuk sekarang, bukan dalam bentuk suatu saat.
Lalu Paulus menyebut daftar panjang keadaan hidupnya sebagai pelayan Allah: menahan penderitaan, penjara, jerih payah, dihormati dan dihina, diumpat dan dipuji. Ia tidak menunggu keadaan enak dulu baru melayani. Ia melayani justru di tengah keadaan yang campur aduk itu, hari demi hari, apa adanya.
Injil menaruh tuntutan yang tak kalah mendesak. Jangan membalas kejahatan; berilah pipi yang lain, serahkan juga jubahmu, berjalanlah lebih jauh dari yang dipaksakan. Semua itu tidak bisa ditunda ke nanti kalau aku sudah jadi orang baik. Kasih semacam ini selalu diminta pada saat yang paling tidak nyaman, yaitu sekarang, ketika kita sedang disakiti.
Adakah satu kebaikan, satu maaf, satu langkah pendamaian yang selama ini kita tulis di daftar nanti? Hari ini adalah hari penyelamatan itu.
Tuhan, lepaskan aku dari tipuan kata nanti, dan berilah aku keberanian mengasihi hari ini juga. Amin.